Kamis, 28 April 2016

KEBAHAGIAAN, DIMULAI DARI DOA



Pagi yang cerah tanda dimulainya hari. Matahari memancarkan sinarnya seindah lukisan alam. Lalu lalang kendaraan meriuhkan suasana jalanan. Langkah kaki anak sekolahan menuju tempat mencari ilmu menambah semaraknya hari ini. Semua suasana itu seolah memompa semangat untukku memulai hari. Ada keberkahan dari Illahi Rabbi atas segala nikmat yang kurasakan pagi ini.

Kubuka lembaran baru kehidupan hari  dengan menikmati sarapan pagi dengan menu Nasi Kuning yang menjadi sajian rutin. Lantunan lagu nasyid yang penuh keromantisan menambah suasana menjadi damai. Hanya ekspresi ringan dari lisan melantukan ucapan kata Alhamdulillah yang menjadi caraku mengucap syukur atas nikmat yang baru saja diberi oleh sang Maha Pencipta.

Ingin kumelanjutkan aktifitas rutinku memulai pekerjaan yang telah kurencanakan. Tapi karena bahan untuk kerja belum siap, sejenak kumenghidupkan komputer kerja yang senantiasa menemaniku menjalankan tanggung jawab sebagai seorang pekerja. Kubuka halaman peramban untuk berselancar menyusuri sebuah web media sosial. Sekedar mengecek kabar yang masuk dari sekian banyak orang yang kukenal dalam menjalani silaturrahmi di dunia yang tidak nyata ini.

Perlahan-lahan, satu demi satu, tahap demi tahap, bagian demi bagian kutelusuri beberapa pemberitahuan yang muncul di berandaku. Sekedar melihat komentar yang ada ataupun membalas pesan masuk adalah caraku memberikan umpan balik kepada saudara-saudaraku dan teman-temanku di jagad maya ini. 
Pada satu kondisi tertentu, kumencoba membuka sebuah laman media sosial yang lama tidak kukunjungi. Secara acak kubuka beberapa akun yang pemilik akun tersebut aku kenal ataupun yang tidak kukenal tapi menjadi hal menarik yang untuk kulihat. Satu persatu saya melihat beberapa isi yang menarik, mulai dari berita sepakbola, berita otomotif, berita politik dan beberapa beberapa berita ringan yang jadi trending di media sosial saat ini.

Dari sekian banyak hal yang kulihat saat berselancar di sosial media yang aku kunjungi, aku tertarik dengan sebuah akun. Akun tersebut adalah akun sosial media yang kukenal. Yang sangat membuat aku  tertarik adalah komentar yang ada dalam akun tersebut. Komentar yang bukan sekedar komentar biasa, tapi di dalam komentar tersebut berisi hal yang sangat luar biasa. Ucapan dan juga lantunan doa yang penuh dengan cita-cita mulia, cita-cita yang setiap orang beriman ingin sekali mendapatkannya dalam manjalani hidup dan kehidupan.

“Ammiinn ammiinn terima kasih sayang, terima kasih segala yang telah diperjuangkan dan telah diberikan. Semoga doa doa yang dipanjatkan semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Ammiinn mmuuaahh love you so much ......”

Seperti itulah ucapan dan juga lantunan doa yang ada di dalam komentar pada akun sosial tersebut. Mungkin bagi sebagian orang ungkapan dan ucapan doa tersebut terlihat biasa saja, sudah sering diucapkan dan diungkapkan oleh banyak orang. Tapi bagi saya itu merupakan ucapan dan juga ungkapan yang luar biasa.
Ungkapan terima kasih adalah ungkapan terbaik bagi seorang manusia kepada manusia yang lainnya. Ungkapan yang merupakan bentuk apresiasi kepada orang lain manakala orang lain telah memberikan sesuatu yang baik dan juga kebaikan bagi diri kita. Ungkapan yang mencerminkan bahwa kita tidak lupa terhadap orang lain, apalagi saat orang lain telah berbuat baik kepada kita. Ungkapan yang mencerminkan bahwa kita adalah manusia yang senantiasa meneguhkan prinsip menjalin hubungan baik dengan manusia lainnya (Habluminannas).

Selain ungkapan terima kasih, yang tak kalah luar biasanya bagi saya adalah ucapan doa diatas. Doa yang bukan sekedar doa biasa, tapi doa yang menjadi sebuah cita-cita mulia. Doa yang menjadi tujuan mulia ketika kita hidup di dunia ini. Doa yang menjadi kerangka seorang muslim dalam menjalani kehidupan. Doa agar mendapatkan ridho Allah SWT.

Semua orang khususnya yang muslim bisa saja diberikan dan dikasih apa saja oleh Allah, tapi tidak semua yang diberi dan dikasih oleh Allah tersebut mendapatkan ridho dari Allah SWT. Ridho Allah SWT menjadi pembeda antara satu dengan yang lain terhadap kedekatannya dengan Allah SWT. Ridho Allah SWT menjadi pembeda terhadap mereka yang mendapatkan Rahman dan Rahimnya Allah dengan mereka yang tidak mendapatkan Rahman dan Rahimnya Allah.

Saya salut dengan saudara saya tersebut yang mengungkapkan rasa terima kasihnya dan ucapan doanya agar mendapat Ridho Allah SWT. Dia memiliki cita-cita mulia, cita-cita ingin meraih kebahagiaan yang dibingkai dengan Ridho dari Allah SWT. Dengan ridho Allah dia ingin mendapatkan kebahagiaan, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak insya Allah. 

Sayapun secara tidak sadar ikut meneteskan air mata ketika membaca ucapan doa tersebut. Bukan air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan. Kebahagiaan karena sebuah harapan besar untuk meraih Ridho Allah SWT. Semoga apa yang dicita-citakan oleh saudara saya tersebut dikabulkan oleh Allah SWT. 

Dia yang tidak lama lagi akan segera menikah dengan pujaan hatinya, menikah dengan orang yang selalu dia hadirkan dalam lantunan doanya pada setiap sholatnya , semoga Allah mengabulaan niat suci yang ia impikan selama ini. Sebagai bentuk apresiasi terhadap usaha dan perjuangannya selama ini untuk menjemput pendamping hidupnya, tanpa bermaksud mendahului takdir, saya mengirimkan doa untuknya yang insya Allah dalam waktu dekat ini akan segera menikah. Barakallahulaka wabarakah alaika wajamaah bainakuma fii khair.

Saya pun berharap kepada Allah semoga Allah SWT senantiasa juga memberikan Ridhonya kepada saya dalam menjalani hidup dan kehidupan ini. Hanya kepada Allah saya berserah diri dan memohon pertolongan, tiada daya upaya yang bisa saya lakukan selaian hanya berharap kepada Allah. Laa haula walaa quwata ila billah.

Luwuk – Jumat, 29 April 2016. 09.49

Selasa, 22 Maret 2016

FOTO, KENANGAN DAN KEBAHAGIAAN

Beberapa waktu yang lalu saya menyempatkan diri silaturahmi di rumah milik sebuah keluarga. Rumah tersebut bukanlah rumah mewah, tetapi hanya sebuah rumah sederhana. Rumah yang usianya sudah tua, berdiri sudah lebih dari tiga puluh tahun. Isi rumah tersebut pun banyak terdapat benda-benda klasik seperti guci dan foto-foto masa lalu. 
Saat silaturahmi ke rumah tersebut, saya sangat terkesan sekali. Sekalipun berada di rumah itu saya hanya beberapa saat saja dan dengan durasi yang sangat singkat. Saya terkesan dengan sambutan hangat yang diberikan oleh penghuni rumah tersebut. Bahwa rumah tersebut berisi sebuah keluarga bahagia, keluarga yang insya Allah senantiasa dilimpahkan keberkahan oleh Allah SWT. Bahagia rasanya jika bisa menjadi bagian dari keluarga tersebut. 
Selain dengan keramahan yang diberikan oleh keluarga penghuni rumah, saya juga terkesan dengan rumah tersebut yang berisi banyak foto. Di setiap sudut ruangan selalu saja ada foto yang tergantung rapi dan nampak terawat. Foto-foto tersebut merupakan foto-foto kenangan perjalanan hidup orang-orang yang menjadi penghuni rumah tersebut. 
Mulai foto bersama sekeluarga saat anak-anaknya masih kecil, foto anak-anaknya satu per satu saat masih kecil, foto anak-anaknya saat sudah sekolah, foto anak-anaknya saat sudah kuliah, sampai foto anaknya saat sudah menikah. Bahkan selain itu, mereka juga menyimpan foto orang tua mereka saat masih zaman awal-awal negara ini berdiri. 
Setiap saya memandangi foto tersebut, saya berfikir betapa mereka orang yang berada dalam keluarga ini begitu hebatnya menyimpan bagian sejarah perjalanan hidup mereka. Yang dikumpulkan dengan banyak foto sejak dulu kala sampai dengan saat ini. Betapa hebatnya mereka merawat setiap momen dan juga kenangan hidup yang mereka jalani. 
Betapa mereka merawat kebahagiaan itu dengan sederhana. Setiap momen yang mereka lewati, bisa diabadikan dengan kumpulan foto yang merupakan bagian dari sejarah. Saya pun melihat hal tersebut seperti mendapat hentakan keras, mengapa setiap momen bahagia yang saya alami dalam hidup tidak saya abadikan dalam bentuk foto.
Selama ini saya tidak terlalu memusingkan dengan hal seperti itu, mengabadikan setiap momen bahagia ke dalam sebuah foto. Saya berpikir itu tidak terlalu penting bagi hidup saya. Tapi ternyata walaupun hal tersebut tidak penting bagi diri saya, tapi ternyata hal tersebut merupakan hal penting bagi orang lain. Utamanya orang-orang yang berada di sekeliling saya, dalam hal ini keluarga saya sendiri. Saya merasa berdosa sembari menyesali apa yang pernah saya alami.
Berangkat dari hal tersebut, kini saya ingin merubah cara pandang tersebut. Jika selama ini tidak terlalu pusing dengan hal yang berkaitan dengan foto kenangan, maka saya akan bertekad untuk bisa memulainya. Minimal dengan niat untuk membahagiakan keluarga saya. Ada kebahagiaan tersendiri bagi keluarga, utamanya mama dan papa ketika melihat anaknya berhasil. Apalagi keberhasilan itu bisa diabadikan ke dalam sebuah foto yang bisa jadi bukti otentik.
Hal tersebut saya mulai dengan mencetak foto saat saya wisuda sarjana tahun 2014 yang lalu. Foto tersebut baru bisa saya cetak saat ini karena foto wisudanya baru bisa saya dapatkan saat ini setelah masa pencarian selama hampir 2 tahun lamanya.
Saat akan diwisuda dulu, saya dengan beberapa orang teman tidak sempat berfoto ke tukang foto profesional untuk mengabadikan kenangan diwisuda. Bukannya kami tidak ada niat dan keinginan untuk berfoto, tapi memang kami pada waktu itu tidak memiliki biaya untuk membayar tukang foto profeisonal. 
Untuk makan dan trasportasi dari penginapan ke kampus saja kami sampai harus berhemat mengeluarkan uang, apalagi jika harus membayar tukang foto. Akhirnya saya dan beberapa orang teman hanya bisa berfoto menggunakan kamera milik teman dari temanku.
Setelah momen wisuda, saya sempat mencari teman dari temanku untuk menyalin foto yang ada di kameranya. Tapi saya tidak pernah bertemu dengan orang tersebut, bahkan beberapa kali saya menghubungi teman untuk menanyakan keberadaan foto saat wisuda dulu tapi selalu mendapat jawaban yang tidak memuaskan.
Akhirnya tanpa diduga saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa kumpulan foto saat wisuda dulu ada sama dia. Tanpa perlu berlama-lama saya pun berusaha untuk menyalinnya, hanya dari beberapa kali usaha untuk bertemu dengan teman tersebut justru tidak pernah bisa ketemu. Selang beberapa waktu akhirnya ada seorang teman lain yang mengantarkan foto tersebut, Alhamdulillah foto tersebut bisa saya salin.
Kini foto tersebut telah saya edit, saya cetak dan saya beri bingkai. Saya buat sebagus mungkin, supaya enak dipandang mata. Saya buat seperti ini semata bukan untuk diri saya sendiri, tapi saya buat dengan niat suci untuk membahagiakan kedua orang tua saya. Ketika foto tersebut telah jadi, saya langsung antar ke rumah dan saya pajang di ruang tamu. Melihat foto tersebut nampak raut wajah kedua orang tua saya sangat berbahagia, dengan mata berbinar saya pun mengucapkan syukur kepada Allah.
Alhamdulillah atas karunia Allah yang masih memberikan saya kesempatan untuk membahagiakan orang tua saya di usia mereka yang semakin senja. Ada kebahagiaan yang lahir dari sebuah hal sederhana, ada kebahagiaan yang lahir dari sebuah foto. Betapa bahagianya kedua orang tua saya saat melihat foto anaknya, satu-satunya orang yang menjadi sarjana di dalam rumah kami.
Mama dan papa, saya mohon ampun karena selama ini saya lalai sebagai seorang anak. Saya terlalu egois dengan diri saya sendiri. Saya terlalu memikirkan kebahagiaan dari sisi diri saya sendiri, tapi lupa memikirkan kebahagiaan dari sisi mama dan papa. Saya bersyukur Allah masih membuka hatiku untuk memperhatikan hal-hal kecil yang itu bisa menjadi salah satu sumber kebahagiaan yang Allah berikan.
Kepada keluarga yang telah saya kunjungi rumahnya dan telah menginspirasi, saya berharap semoga Allah menakdirkan saya untuk kembali lagi ke rumah tersebut. Bahkan bukan sekedar kembali datang, akan tetapi lebih dari itu Allah menakdirkan saya bisa menjadi bagian dari keluarga tersebut. Aamiin ya Rabb...

Luwuk, 23 Maret 2016 – 11.14

Sabtu, 27 Februari 2016

Ternyata Saya (Keturunan) Orang Bugis

Kemarin sebelum masuk waktu magrib, saya merencanakan diri untuk pulang ke rumah. Alasannya karena sudah beberapa hari saya tidak pulang ke rumah, selain itu juga saya mau menyampaikan pesan dan janji kepada adik saya. Saat azan magrib berkumandang, saya menyempatkan diri melangkahkan kaki menuju masjid. Setelah dari masjid sejenak saya singgah ke sebuah warung kecil membeli snack untuk dibawa pulang ke rumah. Pulang dari masjid saya berkumpul bersama keluarga sambil menikmati snack yang saya beli. Sembari menikmati snack yang ada, saya bersama mama dan kedua adik saya terlibat dalam sebuah obrolan hangat. Obrolan tentang tingkah laku keponakan saya yang masih bayi, tentang akitifitas sekolah adik saya dan tentang nenek saya yang ada di kampung. Ketika membahas tentang nenek saya yang ada di kampung, mama menceritakan aktifitas keseharian nenek di kampung yaitu berkebun. Berkebun untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Dalam obrolan yang hangat tersebut tiba-tiba adik saya berceletuk tentang kebun yang nenek pakai untuk berkebun. Kata mama lahan yang dipakai nenek untuk berkebun saat ini relatif lebih enak, karena tidak jauh dengan rumah yang ada di kampung. Membahas tentang kebun, saya teringat dengan kebun milik nenek yang pernah saya kunjungi saat saya pulang ke kampung enam belas tahun silam. Dimana seingat saya kebun yang pernah saya datangi tersebut jaraknya dari rumah sangatlah jauh. Harus ditempuh dengan berjalan kaki dengan jarak berkilo-kilo meter dan memakan waktu berjam-jam. Kemudian secara spontan saya bertanya kepada mama tentang kebun tersebut. Mengapa nenek sampai mau berkebun dengan jarak sejauh itu, terus kebun itu milik siapa. Mendengar pertanyaan saya, kemudian mama menjelaskan asal-usul kebun tersebut. Menurut mama kebun itu merupakan warisan dari kakek buyut saya yang merupakan orang bugis. Mendengar jawaban tersebut, saya terkaget sekaligus heran. Apa benar kakek buyut saya orang bugis, berarti secara tidak langsung saya juga masih memiliki darah keturunan suku bugis. Terus saya bertanya lagi kepada mama, bagaimana ceritanya sampai kakek buyut saya yang orang bugis bisa sampai ke kampung tempat kelahiran mama. Mama kemudian menceritakan tentang kakek buyut saya berdasarkan cerita yang didengar dari nenek. Pada waktu itu hanya tidak tau persis tahun berapa, ada tiga orang perantauan yang datang mengadu nasibnya di kampung. Ketiga orang tersebut berasal dari etnis yang berbeda yaitu, ada orang cina yang berasal dari surabaya yang merupakan seorang pedang. Kemudian yang kedua adalah orang arab yang juga merupakan seorang pedagang. Selanjutnya adalah kakek buyut saya yang orang bugis, berprofesi juga sebagai seorang pedagang. Kemudian saya bertanya lagi kepada mama, kalau saya ini keturuan keberapa dari kakek buyut saya yang orang bugis tersebut. Mama menjawab bahwa saya ini dalam silsilah merupakan keturunan keenam dari kakek buyut tersebut. Kakek buyut saya bernama Puang Tondang, berasal dari Bone Sulawesi Selatan. Anak dari puang tondang bernama Daeng Rumpa, kemudian Daeng Rumpa memiliki anak yang bernama Ladembeua. Dari Ladembeua kemudian memiliki anak lagi yang bernama Ladenaia. Selanjutnya Ladenaia memiliki anak bernama Laode Liha, yang tidak lain merupakan kakek saya saat ini. Dari kakek saya, lahir ibu saya yaitu Warisu. Kemudian dari ibu saya lahirlah saya. Jika dilihat dan dihitung, saya merupakan keturunan keenam dari Puang Tondang yang orang bugis tersebut. Puang Tondang pada masanya merupakan seorang yang dihormati oleh masyarakat karena dianggap merupakan seorang tokoh. Mendengar penjelasan mama saya jadi tau silsilah keluarga saya, walaupun hanya terputus sampai pada Puang Tondang saja. Setidaknya saya punya bekal pengetahuan untuk saya ceritakan kepada anak cucu saya kelak saat menjelaskan silsilah keluarga. Luwuk, 27 Februari 2016 17.40

Senin, 30 Juni 2014

Apa Arti Sebuah Nama

Ada salah satu ungkapan terkenal dari seorang bernama William Shakespeare, Apa arti sebuah nama. Saya tidak tau apa makna yang terkandung dalam ungkapan tersebut. Apakah hanya sebuah ungkapan biasa seperti yang kita dengar setiap hari, atau ungkapan tersebut memiliki nilai serta bobot yang cukup besar. Sekitar sebulan lalu bos dari perusahaan tempat saya bekerja datang dari Jakarta untuk berkunjung ke Luwuk. Mereka berjumlah sebanyak empat orang. Pada salah satu kesempatan saya diajak oleh mereka untuk pergi makan malam pada salah satu warung makan di seputaran Kompleks Teluk Lalong. Di dalam mobil saya sedikit banyak mengobrol bersama mereka. Pada setiap obrolan saya sering mengeluarkan guyonan khas Luwuk yang membuat mereka tertawa atas guyonan yang saya sampaikan. Karena sering membuat mereka tertawa, salah satu dari mereka mentahbiskan saya dengan sebutan nama Paijo. Saya tidak tau apa maksud dari kata Paijo yang mereka tahbiskan. Yang bisa saya terka bahwa nama Paijo adalah nama khas orang Jawa. Hanya saja saya tidak tau makna terdalam dari nama tesebut. Dalam pemikiran yang panjang mencari makna dari nama Paijo, kemudian saya teringat ungkapan dari William Shakespeare di atas. Apa arti sebuah nama, What the mean of a name. Ya, pengalaman atas pentahbisan nama yang saya alami membuat saya menarik sebuah kesimpulan. Terkait dengan nama Paijo, bisa ditarik kesimpulan bahwa nama Paijo itu identik dengan seseorang yang memiliki karakter suka melucu sehingga orang lain bisa tertawa. Apakah benar seperti itu? Nah itu yang tidak saya tau. Pertama, saya bukan orang Jawa sehingga saya tidak tau apa arti dari nama Paijo. Kedua, saya belum bertemu dengan orang jawa untuk menanyakan arti dari nama Paijo. Alasannya adalah karena nama Paijo ini muncul saat saya ingin membuat tulisan ini. Bingung dengan bahasan apa yang ingin dimasukan dalam tulisan karena tidak mendapat inspirasi, akhirnya nama Paijo inilah yang jadi bahan tulisan ini karena Paijolah yang sempat singgah dalam lintasan pikira saya. Jadi, ditengah kondisi kita saat ini yang penuh dengan tekanan dan beban keadaan. Saya tidak mau menambah beban kepada semua pembaca tulisan saya hanya karena bingung dengan nama Paijo. Maka, mari kita bersama-sama saling ber-Paijo agar kita tidak stress karena tekanan keadaan. Karena Paijo adalah kita, untuk indonesia hebat. ^_^ Puge, 23 Juni 2014. 11.05 Wita

Selasa, 06 Mei 2014

Kebersamaan Dengan Roti Tawar dan Susu Coklat

Tidak terasa sudah hampir satu minggu saya meninggalkan Kota Makassar. Walaupun saya berada di Kota Daeng hanya selama dua minggu, tapi saya tidak akan melupakan kenangan di kota tersebut. Ya waktu yang sedikit tapi dengan banyak kenangan. Saat ini memang kaki saya telah berpijak di tanah Luwuk, tapi pijakan di tanah Makassar masih melekat tidak hanya dipikiran, akan tetapi melekat juga di hati. Bukan karena kotanya yang macet, karena memang saya benci dengan kemacetan. Bukan karena banyaknya tempat hiburan, karena saya tidak terbiasa dengan dunia hiburan. Bukan karena kota yang besar, karena bagi saya kota besar sangat sumpek. Tapi ada hal lain yang membuat saya sulit melupakan kenangan ketika berada di Kota Makassar. Hal tersebut adalah kenangan tentang kebersamaan. Ya tentang sebuah kebersamaan dari para mahasiswa Teknik Informatika yang akan melaksanakan ujian akhir dan juga wisuda sarjana. Meninggalkan Kota Luwuk dengan segenap beban di pundak dan juga beban di kantong untuk sebuah cita-cita besar. Menyandang gelar sarjana dengan embel-embel kata “S.Kom” yang akan melekat dan terpampang di belakang nama setelah proses wisuda selesai dilaksanakan. Kebersamaan itu dimulai di Mess Pemda Kabupaten Banggai yang beralamat di Jalan Gunung Merapi Kota Makassar. Di gedung inilah kebersamaan itu dirangkai satu per satu, dari obrolan dan canda menjadi sebuah ikatan kebersamaan. Bertempat di kamar 2 dan amar 8 rangkaian kebersamaan disemai dengan bermandikan kehangatan sebuah persahabatan. Kebersamaan yang dimulai dengan curhat antara satu orang yang kemudian secara bergantian dilanjutkan dengan curhat orang yang lain. Beragam problema dan beban yang dihadapi, utamanya terkait dengan pelaksanaan ujian menjadi bahan curhat masing-masing orang. Ada juga curhatan tentang kondisi keuangan yang semakin sekarat, berharap kiriman uang yang tak kunjung datang. Ada juga curhatan tentang nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) yang tidak memuaskan. Tapi semua itu dilalui dengan penuh keceriaan, tidak dijadikan beban pikiran. Yang penting bisa merasakan kebersamaan, itu sudah cukup untuk menutupi problema yang menggunung. Kebersamaan itu memang benar-benar terasa. kita semua walaupun sudah hampir lima tahun bersama menjalani persahabatan di bangku kuliah, entah mengapa ketika berada di Makassar justru kebersamaan itu baru terasa. apakah karena memang suasana yang sama-sama serba kekurangan, sehingga slogan senasib sepenanggungan muncul. Atau karena “magnet” Kota Makassar lebih kuat daya tariknya dibanding Kota Luwuk sehingga kebersaman itu muncul. Saya sendiri bingung, sebab itu tumbuh secara alamiah. Namun dari semua itu ada hal justru paling berkesan. Dia hadir saat suka maupun duka, disaat siang maupun malam, disaat sedih maupun bahagia, disaat lapar maupun kenyang. Hal tersebut adalah roti tawar beserta susu coklat. Ya, kedua benda inilah yang punya daya tarik yang cukup besar untuk melahirkan kebersamaan. Saking besar daya tariknya orang yang berada di Kamar 2 secara tiba-tiba bisa datang ke Kamar 8 karena merasa roti dan susu coklat tersedia di Kamar 8. Padahal orang yang di kamar 2 tidak diberi tahu kalau ada roti dan susu coklat di kamar 8. Itulah uniknya, roti tawar dan susu coklat bisa menembus sekat-sekat tembok, seakan orang yang berada di kamar 2 memliki indra keenam terhadap segala hal yang ada roti tawar dan susu coklat didalamnya. Oh kawan-kawan, kapan kita bisa berkumpul lagi di Mess Pemda Banggai di Kota Makassar. Berkumpul bersama menikmati roti tawar dan susu coklat. Karena roti tawar dan susu coklatlah yang menguatkan kebersamaan kita. Dari roti tawar dan susu coklat kita merengkuh gelar S.Kom di tanah yang bukan tempat lahir kita. Kini kita berada di Luwuk, maka nikmati sajalah roti tawar dan susu coklat yang ada di luwuk. ^_^ Jalan Garuda, 06052014 22.30 Wita.

SAYA (BELUM) BANGGA MENJADI SARJANA

Jarum jam menunjukan hampir pukul lima dini hari, udara begitu hangat. Derap kesunyian nampak terasa, gedung berlantai dua itu pun masih terlihat gelap. Di salah satu ruangan berukuran tiga kali empat meter pada gedung tersebut nampak tiga orang sedang asyik tertidur dengan lelap. Selain empat orang tadi ada juga saya sendiri yang sudah terbangun dan ingin memulai aktifitas. Karena mendengar lantunan ayat suci Alqur’an dan juga panggilan muadzin dari salah satu masjid terdekat, saya pun bergegas menuju masjid. Menggerakkan langkah setapak demi setapak memenuhi kewajiban sebagai hamba Illahi. Setelah selesai melaksanakan sholat subuh di masjid, saya pun kembali ke peraduan mempersiapkah hari bahagia yang akan dilalui. Ya, hari ini senin bertepatan dengan tanggal 28 april 2014 merupakan hari berbahagia bagi 797 orang mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Karena pada hari tersebut dilaksanakan Takhrij Thalabat (wisuda) sarjana dan magister periode 1 tahun 2014. Hari bersejarah bagi mereka yang telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Hari berbahagia bagi mereka yang telah lama mengidam-idamkan gelar sarjana melekat dibalik nama mereka. Sebuah momen dimana setiap orang yang melaluinya akan merasa ini adalah salah satu bagian terindah dalam hidupnya. Sebuah momen yang bahagia tersebut bukan hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tapi dirasakan juga oleh keluarganya. Sebuah momen yang merupakan pijakan dan modal awal bagi mereka yang akan meniti karir. Sebuah momen yang dengan melaluinya akan menempatkan diri berada pada strata sosial satu tingkat lebih tinggi dari pada mereka yang tidak pernah melalui jenjang perguruan tinggi. Pelaksanaan wisuda yang dilalui pada hari ini memang penuh dengan warna-warni. Keceriaan tidak bisa ditutupi dari pancaran wajah pada setiap mahasiswa dan mahasiswi yang diwisuda. Begitu juga bagi orang-orang yang mendampingi wisudawan/wisudawati, entah itu orang tua, kerabat, teman, pacar dan semua yang hadir. Senyum bahagia, wajah sumringah, tatapan penuh optimis, kedipan mata yang beraura adalah hal-hal yang menggambarkan suasana wisuda. Setiap orang yang diwisuda terlihat penuh bangga atas apa yang mereka lalui pada hari ini. Namun hal berbeda justru terjadi pada diri saya. Pada pelaksanaan wisuda kali ini saya merasa tidak terlalu berbangga seperti kebanyakan orang lainnya. Saya menganggap wisuda kali ini terasa biasa-biasa saja, sekalipun itu tidak menghilangkan kebahagiaan bagi diri saya. Sebab saya menganggap bangga dan juga bahagia adalah dua hal yang berbeda. Sekalipun keduanya sama-sama berada diwilayah perasaan, tapi bangga dan bahagia berada pada tingkatan yang berbeda. Itulah yang saya alami, berbahagia tapi tidak terlalu bangga. Ada beberapa hal yang menjadi sebab sehingga saya tidak terlalu berbangga ketika diwisuda menjadi sarjana. Sebab yang pertama adalah saya merasa saya bukanlah manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Allah, sedangkan saya adalah manusia yang masih banyak salah dan khilaf. Gelar sarjana adalah salah satu bentuk salah dan khilaf saya manakala saya tidak bisa mengamalkan ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah serta tidak bisa mengaplikasikannya di masyarakat. Terkait dengan hal tersebut saya teringat salah satu sambutan yang disampaikan oleh rektor saat acara wisuda berlangsung. Kata-kata yang diucapkannya adalah “secara moral, anak-anakku harus bisa mempertanggungjawabkan gelar sarjana yang melekat pada diri sehingga tidak disalahgunakan”. Ya kata kunci yang ada disambutan tersebut adalah kita jangan sampai menyalahgunakan gelar yang kita terima. Sebab ketika kita menyandang gelar sarjana, maka kita memiliki konsekwensi yaitu harus menjaga nama baik diri dan gelar beserta nama baik almamater. Dan itu adalah hal berat bagi saya dan dari hal berat tersebut tidak membebankan saya untuk mesti berbangga. Hal kedua yang membuat saya tidak berbangga ketika diwisuda adalah bagi saya gelar sarjana itu merupakan bagian terkecil dari jenjang yang kita lalui diperguruan tinggi. Diatas gelar sarjana masih ada gelar magister dan juga gelar doktor. Bahkan diatasnya itu masih ada gelar professor. Sehingga saya merasa saya akan berbangga manakala saya sudah bisa mencapai tatanan yang lebih tinggi yaitu menyandang gelar doktor atau professor. Sehingga hal tersebut bisa memacu dan memotivasi saya untuk senantiasa menguatkan niat serta bekerja keras dalam menimba ilmu. Karena ada target yang lebih tinggi yang membuat kita tidak pernah berhenti untuk menuntut ilmu. Jangan berpuas diri hanya karena menjadi seorang sarjana. Sebab ketiga sehingga saya tidak berbangga ketika wisuda kali ini adalah saya disini hanya seorang diri tanpa didampingi oleh kedua orang tua saya. Jadi saya tidak bisa berbangga ketika saya berbahagia namun tidak ada kedua orang tua saya yang menyaksikan secara langsung ketika saya sedang berbahagia. Bagaimanapun sampai saat ini walapun saya belum menjadi orang sukses, tapi ada andil kedua orang tua saya sehingga saya bisa menjadi seorang sarjana. Sehingga saya menganggap biarlah kebahagiaan ini saya kirimkan kepada mereka berdua dalam bentuk doa. Sehingga dengan doa tersebut secara tidak langsung dapat meraka rasakan sehingga melahirkan kebanggan tersendiri. sekalipun saya tidak berbangga, bagaimanapun gelar sarjana yang saya raih kali ini merupakan karunia, nikmat dan juga anugerah dari Allah. maka tidak ada cara lain yang bisa saya lakukan selain bersyukur dengan mengucakan Alhamdulillah. bukan tidak mungkin dengan ucapan syukur yang saya panjatkan kehadirat Allah Swt itu bisa menjadi pintu masuk saya meraih nikmat berikutnya dari Allah, menjadi magister, doktor dan professor. walaupun kelihatan mustahil, tapi bagi Allah semuanya tidak ada yang sulit, walaupun yang kita lakukan hanya sebuah pekerjaan sepeleh, yaitu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Akhirnya semoga saya bisa berbangga ketika bisa meraih posisi yang mulia di hadapan Allah. Menjadi orang yang bertaqwa dan senantiasa diridhoiNya. Menjadi pribadi yang bermanfaat bagi semua orang dan lingkungan dimana saya berada. Menjadi rahmatan lil alamin. Jl. G. Merapi Makassar, 28 April 2014. (22.05 Wita)

Sabtu, 27 Oktober 2012

MERENGKUH DUA KEBAHAGIAAN

Cuaca Desa Lopito, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan yang begitu terik, sedikit mengembalikan naluriku untuk menulis. Membuat sebuah tulisan tentang seorang sahabat. Menulis tentang kebahagiaan yang menghampiri sahabat tersebut. Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin menulis tentang dirinya. Hanya baru kali ini saja keinginan tersebut bisa terlaksana. Itupun karena inspirasi yang datang, berkaitan dengan dirinya yang kini sedang berbahagia. Ya, kebahagiaan yang selama ini terpendam. Kebahagiaan yang menunggu momentum untuk kemunculannya. Sebab kebahagiaan ini dia dapatkan dengan penuh perjuangan dan juga pengorbanan. Bahkan begitu banyak energi yang ia habiskan untuk merengkuh kebahagiaan tersebut. Dan kebahagiaan tersebut ia nikmati diwaktu yang begitu dekat. Untuk tidak dikatakan berada diwaktu yg berhimpitan. Kebahagiaan tersebut ialah dia baru saja diwisuda sebagai seorang sarjana. Dan yang tak kalah pentingnya ialah dia kini telah menikah. Merengkuh dua keberkahan yang melahirkan kebahagiaan hanya dalam waktu sebulan ini saja. Saya sendiri sangat ingin menceritakan perjuangannya mengejar kebahagiaan tersebut. Dimana apa yang dilakukannya selalu berbenturan dengan berbagai macam cobaan. Yang cobaan tersebut bukanlah perkara ringan jika dibanding dengan orang-orang biasa. Dan dia sanggup menghadapi benturan-benturan tersebut. Perjuangan mengejar cita-cita menjadi seorang sarjana misalnya. Benturan terbesar dirasakannya saat-saat memasuki masa akhir dari kuliah. Salah satunya adalah pada saat dia akan mengikuti kuliah kerja nyata (kkn). Betapa malam sebelum dia berangkat pelepasan kkn uangnya dicuri. Dan itu merupakan uang yang menjadi tumpuan selama masa kkn. Betapa ujian yang begitu menyesakan dada. Tidak hanya itu, pada saat hari H akan mengikuti ujian pnentuan, skripsinya basah dengan minuman soda. Sehingga sebagian lembaran skripsinya menjadi berwarna merah akibat tumpahan minuman soda. betapa paniknya dia dan sedikit tertekan dengan keadaan tersebut. namun semua itu bisa dilaluinya, walaupun dengan perjuangan yang cukup berat. dan salah satu yang tak kalah rumit dan pelik ialah jalan panjang meraih kebahagiaan memasuki pintu pernikahan. Betapa setiap harinya dia diejek oleh rekan-rekannya karena dengan usianya yang sudah kelewat matang dia belum juga menikah. Sebenarnya beberapa saat yang lalu dia hampir menikah. Lamaran sudah dilakukan, segala sesuatunya sudah dipersiapkan, tapi entah kenapa tiba-tiba batal di pertengan jalan. Namun semua itu dilaluinya dengan penuh kesabaran dan selalu berusaha. Dan hasil dari usahanya itu membuahkan akhir yang cukup manis. Tidak sampai rentang waktu sebulan, dia menikmati dua buah kebahagiaan sekaligus. Diwisuda sebagai sarjana dan juga menikah. Congratulations myfriend SAILUDIN. KM. Salvador Spirit, salakan-luwuk 20 oktober 2012, 16.41

Senin, 17 September 2012

Dua Kali Terima Kasih

sore hari menunjukan pukul 17.50. seorang lelaki duduk diatas motor yang diparkirnya sambil membaca sebuah buku. membacanya pun sembari terbuai dengan suasana ombak pinggiran pantai. tidak jauh dari posisinya duduk, ada beberapa orang juga yang sedang duduk-duduk menikmati terbenamnya fajar. di bagian depan dari orang tersebut ada juga dua orang lain yang saling berbincang-bincang. sedangkan dibagian belakangnnya ada pula dua orang yang sedang asyik bercerita. namun dua orang dibelakang tersebut tidak hanya sekedar bercerita biasa, akan tetapi berceritap sambil menegak minuman beralkohol. naudzubillah... orang yang membaca buku tersebut cuek saja dengan keadaan yang ada. karena memang dia sendiri sibuk menyelesaikan bacaan buku yang ada di genggamannya. sebuah buku yang menurutnya akan terasa nikmat dibaca sembari melihat perahu nelayan yang lewat maupun menikmati syahdunya desiran ombak pinggiran pantai. baginya membaca sambil berada disuasana yang syahdu dipinggiran pantai dapat membuat pikirannya jdi lbih luas dan lebih terbuka menerima informasi dari buku yang dibaca. hal ini menurutnya sangat mendukung sekali setelah sebelumnya disibukan oleh aktifitas keseharian yang begitu padat. selain suasana pantai, membaca buku ditempat tersebut jug bisa memudahkan langkahnya menuju masjid. ya memang karena tidak jauh dari tempatnya membaca buku terdapat sebuah masjid. bahkan ketika duduk-duduk tersebut sebenarnya ada tiga hal berbeda yang dilaluinya di waktu yang bersamaan. membaca buku, menikmati ombak pinggiran pantai, plus mendengarkan lantunan tilawah yg diputar di masjid tidak jauh dari tempat tersebut. syahdan, akhirnya adzan berkumandang. orang tersebut akhirnya bergegas untuk segera menuju masjid. distarterlah motor miliknya kemudian berjalan menuju panggilan muadzin. baru beberapa meter motor berjalan, tapi orang itu kemudian menepikan motornya ke pinggir jalan mendekati seseorang yang berjalan kaki. ternyata dia menepikan motornya tidak lain adalah untuk membonceng orang yang berjalan kaki tersebut yang kebetulan ingin juga pergi ke masjid. hanya orang yang mengendarai motor tersebut tertegun mendengar perkataan yang keluar dari mulut orang yang ingin diboncengnya. sebuah perkataan yang sering ia dengar tetapi dianggapnya sebuah hal langkah. ya, orang yang diboncengnya tersebut mengatakan terima kasih. biasanya ucapan terima kasih diucapkan setelah orang yang dibantu telah menyelesaikan hajatnya. tapi kali ini tidak seperti itu, orang yang berjalan tersebut mengucapkan terima kasih sebelum dia naik motor dibonceng. setelah yang dibonceng tersebut naik ke atas motor, orang yang berkendara tersebut kemudian melajutkan perjalanannya naik motor menuju masjid. motor telah berjalan, tidak sampai semenit kemudian tibalah mereka berdua.dipelataran masjid. karena memang jarak yang mereka tempuh hanya beberapa meter saja. dan orang yang dibonceng tersebut kemudian lagi-lagi mengucapkan terima kasih. jadi kalau dihitung sejak orang yang dibonceng tersebut naik motor sampai dia turun, hanya satu kata saja yang keluar dari mulutnya sebanyak dua kali yaitu terima kasih. ucapan sebelum dibantu dan ucapan setelah dibantu. ucapan sebelum ditolong dan ucapan setelah ditolong. ucapan yang langkah, mungkin merupakan sebuah hal yang sangat jarang kita temukan saat ini. dari kisah tersebut ada sebuah pelajaran bahwa ada sebuah hal walaupun itu kita anggap kecil sesungguhnya merupakan implikasi besar bagi kita. ungkapan terima kasih adalah bentuk apresiasi kita kepada orang lain yang membantu dan menolong kita. makin banyak kita berterima kasih berarti makin banyak kita mengapresiasi kepada orang lain. so, marilah kita perbanyak berterima kasih. #Masjid Al-Ukhuwwah Tanjung, 13 September 2012, 20.23 Wita.

Rabu, 05 September 2012

Anak Kecil Itu Bernama Rabbani

dipagi buta, hembusan angin cukup menusuk tulang. suasana pagi di sebuah jalan kecil itu terlihat sangat lengang. tidak terlalu tampak banyak orang berlalu lalang. namun beberapa saat kemudian telah terlihat beberapa orang melangkahkan kaki. ada yg berjalan dengan langkah terburu-buru, ada juga yang berjalan dengan santainya. langkah mereka tertuju pada sebuah bangunan besar bercat warna putih yang belum terlalu rampung. sebuah bangunan yang terletak persis disamping kanan jalan dari tempat orang-orang tersebut melangkahkan kaki. ternyata orang yang berjalan tersebut adalah para relawan yang baru saja selesai menjalankan misinya membantu pemulihan di daerah bencana. mereka melangkahkan kaki menuju masjid untuk melaksanakan sholat subuh. mereka telah sampai ke masjid itu sebelum adzan berkumandang. sembari menunggu azan berkumandang mereka dengan asyiknya saling berbagi cerita tentang aktifitas keseharian. tidak hanya bercerita, ada juga yang menunaikan fitrahnya membuang hajat. :D sahdan, azan telah berkumandang maka mereka pun smuanya masuk ke masjid setelah berwudhu. sembari menunggu iqamah dikumandangkan, ada yg melaksanakan sholat sunnah dan ada juga yang berzikir. namun ada satu pemandangan yang berbeda terlihat di dalam masjid itu. dari sekian banyak jamaah masjid yang berusia paruh baya, nampak terselip salah seorang anak kecil berusia sekitar sepuluhan tahun yang menjadi jamaah masjid. anak kecil itu datang ke masjid dengan menunggang sepeda sendirian. yang artinya dia datang ke masjid itu tanpa ditemani oleh orangtuanya. ada keistimewaan yang ada pada diri anak itu. betapa diusianya yang masih sekecil itu dia sudah punya semangat untuk menunaikan kewajiban sebagai makhluk Allah. sangat berbanding terbalik dengan anak-anak lain seusianya yang menghabiskan masa kecil dengan bermain. dari gambaran tersebut telah nampak bahwa anak itu kelak ketika besar dan dewasa dia akan menjadi ujung tombak agama ini. setelah dicari tahu, ternyata anak ini bernama Rabbani. dia.merupakan putra dari salah seorang relawan yang berjalan ke masjid tadi. dari namanya, sudah nampak telah tergambar jelas bahwa orangtuanya ingin menjadikan anak ini hidup dengan nilai rabbaniyah atau senantiasa dekat dengan Rabbnya. sejak kecil ia telah dibentuk dengan nilai-nilai ketuhanan yang dibuktikan dengan kedekatannya terhadap tuntunan agama. selain itu juga orang tuanya telah memdidik dan membentuk anaknya dengan menunjukan langsung sebuah keteladanan. cara tersebut dilakukan oleh orangtuanya dengan berhubungan baik kepada Allah dengan melaksanakan sholat, serta berhubungan baik kepada sesama manusia dengan menjadi relawan. inilah keluarga muslim yang ideal, bahwa kesholehan itu terdistribusi secara merata didalam keluarga. poso-ampana, 2 september 2012.

BIOGRAFI TANPA NAMA

Anggap saja menulis sebuah biografi seorang tokoh besar. Mungkin ini merupakan sebuah inti dari apa yang akan saya tulis saat ini. Ya, menuliskan tentang seseorang yang belum saya kenal tapi seakan saya sudah kenal lama. Seseorang yang tinggal jauh dari tempat saya berada. Seseorang yang bertemu alias bertatap muka pun belum pernah. Tapi begitulah adanya. :D Mengapa bisa saya menuliskan tentang dia? Apa istimewanya dia? Alasan apa sehingga dia bisa dijadikan objek tulisan saya? Mungkin itu sebagian besar pertanyaan sehingga membuat orang mencari alasan sehingga tulisan ini lahir. Yang jelas alasan pertama dari tulisan ini lahir karena ini adalah tugas. Tugas atas komitmen saya dengan orang yang saya jdikan objek tulisan untuk membuat sebuah tulisan. Tulisan tentang kita masing-masing sebagai gambaran sejauh mana kita saling mengenal. Yang dengan kata lain menggambarkan ukhuwah kita dalam bentuk sebuah tulisan. Memang kelihatan aneh, tapi begitulah kita menggambarkan sejauh mana persaudaraan kita. Karena itu tadi, kita belum pernah bertatap muka maka beginilah kita menggambarkan jarak persaudaraan sejauh mana kita saling kenal. Objek yang saya jadikan tulisan adalah seseorang yang tinggal di Pulau Jawa. Tepatnya di Propinsi Jawa Barat. Dia seorang pasundan alias dari suku sunda. Tempat tinggalnya menurut yang dia sampaikan adalah di sekitar pinggiran ibukota propinsi. Aktifitas kesehariaanya adalah menjadi seorang karyawan di sebuah usaha konveksi. Saya mengenal dia belumlah lama. Dan perkenalan kita pun hanya lewat dari sesuatu yang sangat ngetren dizaman modern ini yaitu media jejaring sosial. Perkenalan yang tidak disangka, perkenalan yang begitu istimewa dari sekian banyak teman baru di jejaring sosial. Perkenalan yang tidak pernah diprediksikan. Bahwa persaudaraan itu begitu kuat walaupun raga dipisahkan oleh tempat yang jauh. Saya sendiri cukup bingung dan tidak terlalu banyak tau tentang pribadinya. Saya hanya mengetahui sesuai dengan apa yang saya tau selama berinteraksi di dunia maya. Pengetahuan yang terbatas karena zohiriyah yang terbatas pula. Dia merupakan pribadi dengan tipe yang mudah diajak berinteraksi, walaupun menurut pengakuannya sendiri dia tipe orang yang kurang bersosialisasi. Memang nampak seperti sebuah kontradiksi. Sejauh yang saya tau juga, dia nampak seperti orang yang rada ketinggalan. Mungkin karena dia orang desa. Sekalipun dia tinggal di desa, tapi menurut saya tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari peradaban modern ibukota propinsi. Beda dengan saya yang memang tinggal di pelosok. Selain itu, menggambarkan pribadinya kaykanya dia merupakan orang yang supel, tidak banyak basa-basi. Berbeda dengan saya yang terlalu banyak tetek bengek ini itu. Cukup sekian saja saya menggambarkan tentang dia, karena memang yang saya ketahui hanya seperti itu. Lagi pula saya tidak ingin terlalu berpanjang lebar bercerita dan menulis tentang seseorang yang belum sekalipun saya berinteraksi tatap muka secara langsung. Dan kalaupun ini merupakan sebuah biografi, jangankan sempurna, tidak sempurna saja sangat tidak layak untuk disandang. Karena ini adalah biografi yang tidak mencantumkan nama objek yang ditulis. Nah loh... :D

Selasa, 28 Agustus 2012

Maafkan Atas Ukhuwah Yang Tak Sempurna

Saat saya membuat tulisan ini saya sedang memasuki momen istimewa. Momen yang bagi sebagian orang merupakan saat bersejarah dan juga berbahagia. Momen ketika kita mengulang tanggal kelahiran kita walaupun berada dalam tahun yang berbeda. Momen tersebut adalah milad atau yang lebih kita kenal dengan nama hari ulang tahun. tapi saya tidak terlalu antusias dengan momen tersebut, karena saya merasa tidak terlalu istimewa. Saya hanya bersyukur saja kepada Allah karena telah memberikan saya nikmat untuk bisa hidup sampai dengan saat ini. Ada beberapa alasan yang mengemuka sehingga untuk saat ini saya tidak terlalu antusias dengan tanggal kelahiran saya sendiri. Salah satunya adalah faktor persaudaraan. Mungkin akan muncul pertanyaan apa korelasinya antara tanggal kelahiran dengan persaudaraan sehingga momen hari kelahiran tidak ingin dirayakan. Saya hanya sedikit berprinsip semakin hari usia saya semakin bertambah, maka kepribadian saya pun harus bertambah. Semakin usia saya menjadi dewasa, maka pemikiran dan tingkah laku saya pun harus didewasakan. Nah itu yang menjadi masalah bagi saya saat ini, saya merasa belum menjadi dewasa sepenuhnya. Terutama yang berkaitan dengan ukhuwah atau persaudaraan. Saya sempat berpikir sembari merenung, sebagai seoang muslim kiranya persaudaraan itu harus senantiasa dijaga agar merekat erat. Tapi kenyataan yang ada justru sebaliknya, seakan satu persatu diantara saudara dan teman-teman saya justru ikatan itu mulai merenggang. Teman-teman yang dahulu begitu akrabnya, tidak tau mengapa kini sudah seperti memiliki jarak yang makin hari makin menjauh. Di dunia nyata maupun di dunia maya. Saya berpikir apa kira-kira sebab dan juga sumber masalah sehingga seakan-akan persaudaraaan yang telah lama dibangun seperti sudah mulai runtuh. Mungkin hal pertama yang harus saya perbaiki adalah masalah komunikasi. Sebab sebagin besar masalah yang dihadapi oleh kebanyakan orang adalah dimulai dari komunikasi yang memang bermasalah. Mungkin ada komunikasi yang saya sampaikan baik komunikasi lisan maupun komunikasi tubuh yang tidak berkenan di hati orang lain. Sehingga mereka tanpa saya sadari menjaga jarak bahkan menjauh dari diri saya. Hal kedua yang saya anggap menjadi sumber masalah dalam persaudaraan adalah tentang kebesaran jiwa. Mungkin selama ini jiwa saya terlalu sempit dalam memahami orang lain, tanpa pernah memahami orang lain terhadap diri saya. Selain itu juga barangkali saya terlalu memaksakan kehendak pribadi kepada orang lain. merasa apa yang saya sampaikan sudah yang paling benar tanpa pernah mempertimbangkan kehendak orang lain. padahal segala sesuatu harus dipandang secara objektif agar kehendak antara saya dan orang lain bisa saling mengakomodir. Kan alangkah indah jikalau menjalani persaudaraan tanpa ada yang merasa dirugikan. Sedangkan yang tak kalah krusial yang saya anggap menjadi sumber bermasalahnya hubungan ukhuwah saya adalah sifat egoisme. Ya, inilah sifat dasar manusia yang justru kadang menjadi tembok besar penghalang ikatan persaudaraan. Tidak bagi diri saya dan tidak juga bagi orang lain untuk mengelaknya. Egoisme baik oleh diri saya maupun oleh orang lain saya rasakan menjadi sandungan terbesar ketika ada niatan untuk memperbaiki diri. Kadang kita sudah legowo dan mengalah, tapi karena egoisme tidak jarang saudara kita tidak mau menerima kita. Begitu juga sebaliknya, sudara kita sudah bersusah payah menerima kekurangannya, tapi karena egoisme kita begitu mudahnya merasa diri hebat tidak mau menerima kesalahan saudara kita. Untuk mengakhiri tulisan ini, secara umum saya ingin mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan saya. Sebab saya tidak akan pernah merasakan hari istimewa manakala ada saudara saya yang belum memafkan kesalahan saya. Apa artinya saya berbahagia sementara saudara saya tidak merasa senang dengan kebahagiaan yang saya rasakan. Kepada saudara-saudara saya yang merasa hatinya tersakiti, sekali lagi saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Kepada saudara-saudara saya yang tidak bermasalah dengan saya, saya memohon mari bersama kita kuatkan persaudaraan ini. Agar kesalahan-kesalahan kita dimasa lalu tidak terulang dimasa akan datang. Alangkah indahnya hidup manakala dibingkai dengan persaudaraan yang kuat. Persaudaraan dilandasi dengan keimanan, persaudaraan yang punya satu tujuan besar, meraih ridho Allah di dunia dan akhirat. Maafkanlah atas ukhuwah yang tidak sempurna..... Sarfin Lasumani Laando (28 Agustus 1988 – 28 Agustus 2012)

Jumat, 29 Juni 2012

menjaga keimanan dengan syukur dan sabar

Kondisi hati setiap manusia Allah ciptakan berbeda-beda. Ada yang beriman, ada yang bertaqwa, ada yang kufur, ada yang munafik dan lain-lain. Semua itu adalah khazanah yang menunjukan bahwa Allah itu memberikan keseimbangan pada setiap hambanya yang ada dimuka bumi. Keseimbangan tersebut merupakan salah satu bentuk ujian yang Allah turunkan sebagai pembeda. Ada kalanya seseorang itu pada satu hari memiliki keimanan yang begitu tinggi. Tapi dihari yang lain keimanan itu begitu rendah, bahkan kerendahan itu berada pada titik yang paling dasar. Sebagai manusia muslim, sudah barang tentu keimanan yang Allah berikan kepada kita senantiasa dijaga dan dipelihara. Sebab godaan yang bisa mengikis keimanan kita begitu banyak terdapat disekitar kita. Kita lengah sedikit saja berarti secara tidak langsung kita telah bersiap-siap untuk menempatkan diri kita berada diposisi tidak beriman. Kemampuan untuk mengendalikan diri merupakan hal mutlak yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Secara umum ada dua hal besar yang menjadi pegangan untuk dijadikan kunci mempertahankan keimanan kita. Kedua hal tersebut adalah syukur dan sabar. Mengapa harus syukur dan sabar? Karena keduanya adalah dua faktor penting yang jika tidak bisa dikelola akan mengikis keimanan kita. Syukur adalah kunci mempertahankan keimanan ketika diberikan nikmat oleh Allah. Dengan syukur berarti seorang hamba masih mengingatkan dirinya atas segala kebesaran dan karunia yang Allah berikan. Dengan syukur pula seorang manusia yang beriman masih merasa sebagai hamba yang diberi kemudahan oleh Allah. Sebab, tidak semua orang dapat diberikan kenikmatan oleh Allah. Allah itu maha rahman dan maha rahim. Semua orang bisa saja Allah berikan rahmanNya, tanpa memandang ia seorang beriman atau tidak, seorang kafir atau bukan. Akan tetapi tidak semua orang bisa merasakan rahimNya Allah. Hanya orang-orang beriman dan bertakwa saja yang Allah berikan kasih sayangNya. Dan sejatinya seperti itulah seorang beriman dan bertaqwa ketika Allah berikan nikmat. Memanjatkan kesyukuran sebagai bagian dari pendekatan diri kepada Allah karena telah merasakan rahman dan rahimNya. Faktor kedua yang menjadi pegangan seorang muslim yang beriman agar tidak mengikis keimanan adalah sabar. Jika kesyukuran identik dengan sesuatu yang bersifat nikmat dan hal-hal yang mengenakan, maka kesabaran identik dengan ujian atau sesuatu yang tidak mengenakan. Sifat sabar bagi seorang muslim adalah salah satu sarana untuk menjaga keimanan ketika Allah memberikan ujian. Bersabar atas ujian adalah sesuatu yang terasa berat untuk jadi pegangan. sebab ia terkait dengan hal yang tidak mengenakan hati dalam hal ini identik dengan kesedihan. Bersabar adalah salah satu bentuk ujian yang paling tinggi untuk menilai keimanan seseorang. Sebab menurut Allah, makin beriman seseorang berarti makin banyak ujian yang akan diterima. Dan kadar ujian yang diberikan biasanya makin membesar sejalan dengan tingkat keimanan yang makin membesar pula. Ketika seseorang telah berhasil melewati berbagai macam ujian yang Allah berikan maka gelar yang paling pantas untuk diterima adalah taqwa. Sebuah gelar tertinggi yang Allah karuniakan kepada hambanya yang beriman yang ada di muka bumi. Menjaga dan mempertahankan keimanan ketika diberi ujian akan lebih tinggi kualitasnya dibanding dengan mempertahankan keimanan ketika bersyukur. Seyognya bagi kita sebagai seorang yang beriman harus selalu mengasah kemampuan kita menjaga keimanan dengan cara memperkuat sifat sabar dalam diri kita. Semoga kita semua bisa menjadi orang yang bersyukur ketika diberi nikmat dan bersabar ketika diberi ujian. Semuanya berpulang kepada tekad kita sebagai orang beriman yang ingin meraih predikat takwa. Wallahu a’lam. Luwuk, 30 Juni 2012 07:13 WIta

kebahagiaan

Pagi-pagi buta jam 03.49 saya mendapatkan sms dari seorang teman. Sms yang dia kirimkan berisi seperti ini “Bahagia itu tidak diukur dengan harta ataupun tingginya jabatan. Kebahagiaan adalah ketika saat hati tenang karena melakukan kebaikan dan amanah terselesaikan dengan baik.” Saya sedikit terhenyah saat membaca sms ini, begitu dalam makna yang ada dalam tulisan tersebut. Sebuah penegasan yang menekankan seperti apa kebahagiaan sesungguhnya. Kebahagiaan yang lahir dari hati, bukan yang lahir dari materi. Sebab ketika hati begitu lapang dengan kebahagiaannya, maka keadaan yang sempit pun seperti tidak memberikan pengaruh. Kebahagiaan yang tidak mengukur dari materi ataupun kebendaan lainnya. Kebahagiaan yang mengukur dari kelapangan dan kebesaran hati. Jabatan, harta, kalaupun dia melahirkan kebahagiaan, maka kebahagiaan tersebut sesungguhnya hanya semu belaka. Limit waktunya begitu sempit, bahkan kepuasaan pun mungkin hanya sesaat. Kebahagiaan yang dihasilkan dari materi hanya dirasakan oleh mereka yang punya materi saja. Tidak secara mereta terhadap orang-orang yang ada disekelilingnya. Bahkan kebahagiaan pemilik materi bisa menjadi kebencian yang lahir dari orang yang tidak memiliki materi. Berbeda dengan harta atau jabatan, justru ada kebahagiaan yang bisa membuat hati menjadi tenang. Kebahagiaan tersebut adalah kabahagiaan ketika kita melakukan kebaikan dan dapat menyelesaikan amanah dengan baik. Sebab dimensi kebahagiaan seperti ini adalah kebahagiaan yang dirasakan tidak hanya oleh seseorang, akan tetapi kebahagiaan ini bisa dirasakan oleh orang lain. Berbuat baik kepada orang lain, jelas objeknya adalah orang lain dan subjeknya adalah kita. Diri kita yang bekerja tapi menghasilkan manfaat untuk orang lain. Bekerja meringankan beban orang lain, bekerja memberikan solusi terhadap masalah yang dialami orang lain, bekerja mengisi kekurangan orang lain, bekerja menguatkan kelemahan orang lain, bekerja menghilangkan kesulitan orang lain, dan kerja-kerja lain yang kita kerjakan untuk membahagiakan orang lain. Inilah sesungguhya objek yang seharusnya kita raih untuk mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak hanya terhadap diri kita, tapi kebahagiaan yang bisa juga dinikmati oleh orang lain. Selain berbuat baik, menjalankan amanah dengan baik pun akan mendatangkan kebahagiaan. Ya ketika amanah bisa terselesaikan, maka itulah kebahagiaan hakiki. Sebab amanah hanya bisa dimiliki oleh orang-orang tertentu saja, yaitu oleh mereka yang dapat menjalankan dan menyelesaikan amanah itu dengan baik. Amanah selalu terkait dengan kepercayaan orang kepada kita, kita kepercaan itu bisa kita laksanakan, betapa lapang dan merdekanya hati kita. Kita bisa merasakan kebahagiaan karena kitalah orang-orang terpilih. Terpilih karena bisa menjalankan amanah yang diberikan, terpilih karena kita mendapatkan predikat sebagai orang yang terpercaya. Yang tak kalah penting adalah kebahagiaan ketika berteman dengan orang baik. Makin banyak teman baik yang kita miliki, maka makin banyak kebaikan yang akan kita dapatkan. Teman baik akan selalu mengisi kekurangan kita, mendukung kita disaat kita membutuhkan dukungan, memotivasi diri kita, menguatkan kita disaat kita lemah, membantu memberikan jalan keluar ketika kita ada masalah, memberikan pencerahan ketika kita membutuhkan inspirasi, dan masih banyak kebaikan lain yang bisa membuat kita menjadi orang lebih baik. Terima kasihku kepada semua orang yang telah membahagiaakanku saat berbuat baik dan menjalankan amanah dengan baik. Kebahagiaan ini selalu akan kudedikasikan kepada kalian semua yang selalu berada dalam lingkaran kebaikan. Terkhusus kepada orang yang mengirimkanku sms di pagi buta. dengan smsnya yang masuk saya bisa terbangun dan menonton kekalahan jerman oleh italia dengan skor 2-1 dalam laga semifinal Euro 2012. :D Markas Dakwah, 29 Juni 2012 06:16 WITA.

Sabtu, 16 Juli 2011

Teknik Pencarian Dengan GOOGLE

Meskipun Google menyediakan banyak fitur pencarian, saya yakin tidak banyak dari kita yang menggunakannya pada saat melakukan pencarian informasi. Akhirnya kita kena badai tsunami informasi dari Google yang akhirnya membuat kita bingung sendiri. Kita bahas yuk, teknik pencarian yang efektif itu sebaiknya seperti apa sih.

Secara umum, jenis pencarian di Google ada dua: Basic Search dan Advanced Search. Basic Search adalah fitur pencarian yang sudah biasa kita gunakan yaitu ketika mengakses langsung google.com.


Sedangkan Advanced Search menyediakan berbagai pilihan fitur pencarian baik untuk operator dasar, file format yang ingin kita cari, bahasa, region, dsb.



Sebenarnya masih sangat banyak fitur pencarian yang bisa kita gunakan, tapi tidak terdapat di menu pilihan Advanced Search. Dengan kata lain kita harus memasukannya query di form pencarian di Basic Search langsung. Nah permainan query dan operator pencarian ini yang sebenarnya akan kita bahas di artikel ini.

FITUR PENCARIAN DASAR

AND: Mencari informasi yang mengandung kedua kata yang dicari. Bisa menggunakan salah satu dari tiga alternatif berikut:
ukiran jepara
ukiran AND jepara
ukiran+jepara

OR: Mencari informasi yang mengandung salah satu dari kedua kata. Bisa menggunakan salah satu dari dua alternatif berikut:
tahu OR tempe
tahu | tempe

FRASE: Mencari informasi yang mengandung frase yang dicari dengan menggunakan tanda “”. Contoh:
“perangkat lunak”

NOT: Hasil pencarian mengandung kata yang di depan, tapi tidak yang dibelakang minus (-). Contoh di bawah akan mencari informasi yang mengandung kata ikan tapi bukan bandeng.
ikan -bandeng

SINONIM (~): Mencari kata beserta sinonim-sinonimnya. Contoh di bawah akan membawa hasil pencarian: kendaraan (car) dan sinonim-sinonimnya.
~car

ASTERIK (*): Karakter pengganti kata. Dari contoh di bawah, hasil yang didapat bisa: ayam bakar pedas, ayam goreng pedas, ayam masak pedas, dsb
ayam * pedas

TANDA TITIK (.): Karakter pengganti huruf, angka dan karakter tunggal. Dari contoh di bawah, hasil yang didapat bisa: kopi, koki, kodi, dsb
ko.i

CASE INSENSITIVE: Pencarian di Google menganggap kapital dan bukan kapital sebagai sesuatu yang sama. Jadi, romi satria wahono, Romi Satria Wahono, atau RoMi SaTrIA waHoNo akan membawa hasil pencarian yang sama

PENGABAIAN KATA: Google mengabaikan keyword berupa karakter tunggal dan kata-kata berikut: a, about, an, and, are, as, at, b, by, from, how, i , in, is, it, of, on, or, that, the, this, to, we, what, when, where, which, with. Apabila kita masih tetap menginginkan pencarian kata tersebut, bisa dengan menggunakan karakter + di depan kata yang dicari (contoh: Star Wars Episode +I), atau bisa juga dengan menganggapnya sebagai frase (contoh: “Star Wars Episode I”)

I’M FEELING LUCKY: Akan membawa kita langsung menuju ke hasil pencarian pertama dari query kita

FITUR PENCARIAN LANJUT

DEFINE: Mencari definisi dari sebuah terminologi. Dari contoh di bawah, hasil yang didapat adalah berbagai definisi tentang e-learning dari berbagai sumber
define:e-learning

CACHE: Menampilkan situs web yang telah diindeks oleh Google meskipun sudah tidak aktif lagi. Contoh di bawah akan menghasilkan pencarian kata php pada situs ilmukomputer.com yang ada di indeks Google.
cache:ilmukomputer.com php

LINK: Menampilkan daftar link yang mengarah ke sebuah situs. Contoh di bawah akan menampilkan daftar link yang mengarah ke situs ilmukomputer.com
link:ilmukomputer.com

RELATED: Menampilkan daftar situs yang serupa, mirip atau memiliki hubungan dengan suatu situs
related:romisatriawahono.net

INFO: Menampilkan informasi yang Google ketahui tentang sebuah situs
info:romisatriawahono.net

SITE: Menampilkan pencarian khusus di suatu situs yang ditunjuk


FILETYPE: Menampilkan hasil pencarian berupa suatu jenis (ekstensi) file tertentu. Jenis file yang bisa dicari adalah: doc, xls, rtf, swf, ps, lwp, wri, ppt, pdf, mdb, txt, dsb. Contoh di bawah akan menampilkan hasil pencarian berupa file PDF yang mengandung keyword software engineering
software engineering filetype:pdf

ALLINTITLE: Menampilkan seluruh kata yang dicari dalam TITLE halaman. Contoh di bawah akan menghasilkan halaman yang memiliki title java programming. allintitle ini tidak dapat digabungkan dengan operator (sintaks) lain. Gunakan intitle untuk keperluan itu.
allintitle:java programming

INTITLE: Menampilkan satu kata yang dicari dalam TITLE halaman. Contoh di bawah akan menghasilkan halaman yang memiliki title java dan isi halaman yang mengandung kata enterprise
intitle:java enterprise

ALLINURL: Menampilkan seluruh kata yang dicari di dalam URL. Contoh di bawah akan menghasilkan daftar URL yang mengandung kata java dan programming. allinurl ini tidak dapat digabungkan dengan operator (sintaks) lain. Gunakan inurl untuk keperluan itu.
allinurl:java programming

INURL: Menampilkan satu kata yang dicari di dalam URL. Contoh di bawah akan menghasilkan daftar URL yang mengandung kata java dan isi halaman yang mengandung kata enterprise
inurl:java enterprise

Pencarian yang kita lakukan akan semakin efektif apabila kita mencoba menggabungkan beberapa operator baik yang ada di fitur pencarian dasar maupun lanjut.


Dewasa ini permainan query pencarian Google banyak digunakan para hacker dan cracker untuk mencari berbagai informasi, file, dan konfigurasi yang memiliki lubang keamanan. Aktifitas ini terkenal dengan sebutan Google Hacking. Kapan-kapan kita bahas tentang yang satu ini, setelah kita mahir bermain-main dengan berbagai operator pencarian Google.

Rabu, 13 April 2011

Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro


Oleh Anis Matta*
RASANYA PERBINCANGAN kita tentang syuro tidak akan lengkap tanpa membahas masalah yang satu ini. Apa yang harus kita lakukan seandainya tidak menyetujui hasil syuro? Bagaimana "mengelola" ketidaksetujuan itu?

Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.

Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.

Di sinilah kita memperoleh "pengalaman keikhlasan" yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap hasil syuro.

Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani "pengalaman keikhlasan" seperti itu? Pertama, marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu "upaya ilmiah" seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya? Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenarnya merupakan sekedar "lintasan pikiran" yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.

Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.

Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, "Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar."

Kedua, marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan "kebenaran objektif" atau sebenarnya ada "obsesi jiwa" tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk "ngotot"? Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah "obsesi jiwa" kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun —karena faktor setan— kita mengatakannya demikian.

Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seandainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., "Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan." Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.

Ketiga, seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar.

Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.

Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.

Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.

Keempat, sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada jamaah.

Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.

Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak. ***



*diambil dari buku Anis Matta: 'Menikmati Demokrasi' (cetakan 1, Juli 2002)

nb: Ustadz Anis memang seorang yang briliant, visioner. Jauh lama sebelum 'hiruk pikuk' prahara jama'ah seperti yang sekarang ini, beliau sudah memberi guide bagi jama'ah ini agar tetap eksis, kokoh dalam menghadapi 'segala kemungkinan yang bakal terjadi'. [admin]

Sumber: http://pkspiyungan.blogspot.com/2009/06/mengelola-ketidaksetujuan-terhadap.html

Senin, 11 April 2011

Print Dokumen Menggunakan Mesin Fotocopy


terkadang dalam beberapa waktu tertentu ada pekerjaan yang mengharuskan kita harus mencetak banyak dokumen yang jumlahnya bukan hanya puluhan atau ratusan lembar, akan tetapi bisa sampai ribuan lembar. hal tersebut tentu akan memakan banyak waktu dan biaya jika mencetak menggunakan printer inkjet. kini ada salah satu cara ampuh untuk mencetak banyak kertas akan tetapi dengan waktu dan biaya yang lebih efisien. yaitu mencetak menggunakan mesin fotocopy. apa bisa ya? tentu saja bisa. bagaimana caranya? ikuti saja langkah-langka berikut:
Cara 1:
1. Buka file "win2k_2k3_xp_vista.exe"
2. Unzip
3. Klik Start Menu -> Control Panel -> Printer and Faxes
4. Pilih "Add a Printer" atau File -> Add Printer
5. Next -> Pilih tipe koneksi printer anda(Local printer/Network printer) - pilih "Local... printer attached to this computer" - biarkan tanda centang pada "Automatically Detect...",NEXT - jika ditemukan mesin copier iR5000-6000 maka lanjut.
6.- jika tidak ditemukan, NEXT, kemudian pilih Port yg menghubungkan copier dgn PC;
a. bila menggunakan kabel paralel(LPT1) socket besar, pilih "LPT1:(Recommended Printer Port)" NEXT
b. bila menggunakan kabel network(LAN) socket kecil, pilih "Create a new port", pilih "Standard TCP/IP Port",NEXT
c. kemudian muncul "Add Standard TCP/IP Printer Port Wizard", NEXT isikan Printer Name or IP Address dengan IP pada mesin foto kopi iR anda.(ex:192.168.0.3) NEXT, NEXT lagi, FINISH
d. Pilih Canon pada Manufacturer, pada Printer cari & pilih "Canon iR5000-6000 PCL5e" bila tidak ditemukan, klik "Have Disk", kemudian ganti folder A:\ menjadi C:\Canon, OK kemudian pilih "Canon iR5000-6000 PCL5e", NEXT, pilih "Keep existing driver", NEXT beri nama pada Printer name terserah Anda (ex:iR6000) pilih "Yes" jika ingin dijadikan Default Printer, NEXT pilih "Do not share this printer" jika tidak ingin di sharing, NEXT jangan mencoba print test page bila mesin foto kopi belum di setting, NEXT, FINISH.
e. setting IP mesin foto kopi Anda dan samakan IP-nya dgn Printer port yang Anda buat tadi, Langkah-langkah setting IP pada mesin foto kopi :
1. Tekan *(bintang) / Additional Function -> System Setting ->Network Setting
2. Pilih TCP/IP -> IP Address, isikan sama dgn Printer Port yg Anda buat tadi(ex:192.168.0.3)
3. OK.
f. tes ping dari mesin foto kopi dgn menggunakan fungsi Ping Command, masukkan IP Computer Anda (ex:192.168.0.1) akan muncul "RESPONSE FROM HOST" jika koneksi sudah terhubung, bila muncul "NO RESPONSE FROM HOST" maka coba Restart mesin foto kopi Anda.(mati kemudian nyalakan lagi) sampai koneksi benar2 terhubung. g. bila koneksi sudah terhubung, buka window Printer and Faxes lagi, klik kanan pada item "iR6000", pilih Properties. Pilih Tab "Device Settings", klik tombol "Get Device Status" sampai muncul pesan "Got Device Information"
h. kembali ke Tab General, kemudian klik tombol "Print Test Page", bila hasil Test Page keluar, maka mesin foto kopi sudah siap dipakai. Bila tidak, ulangi mulai dari poin a 6. Gunakan file pada folder "C:\Canon" untuk mengenali dan menginstalasi driver iR5000-6000 (iR5000-6000 pcl5e)

Cara 2:
1. Sambungkan mesin pada PC terlebih dahulu, kemudian Windows akan mendeteksi iR5000-6000, dan akan muncul message di System Tray(pojok kanan bawah)
2. Klik Message Balloon tersebut/tunggu sampai ada pesan instalasi
3. Windows akan meminta driver untuk mengenali mesin foto kopi iR5000-6000
4. Buka file "win2k_2k3_xp_vista.exe"
5. Unzip
6. Buka folder "C:\Canon" dan gunakan "iR5000-6000 pcl5e" sebagai driver mesin foto kopi Anda. Untuk Sofwarenya Silahkan Klik
  • disini
  • Jumat, 08 April 2011

    serial number Windows 7

    Windows 7 Ultimate x86/x64
    FJGCP-4DFJD-GJY49-VJBQ7-HYRR2 (ACER/GATEWAY/PACKARD BELL)
    2Y4WT-DHTBF-Q6MMK-KYK6X-VKM6G (ASUS)
    342DG-6YJR8-X92GV-V7DCV-P4K27 (DELL)
    22TKD-F8XX6-YG69F-9M66D-PMJBM (IBM-LENOVO / OLD)
    6K2KY-BFH24-PJW6W-9GK29-TMPWP (IBM-LENOVO / NEW)
    49PB6-6BJ6Y-KHGCQ-7DDY6-TF7CD (SAMSUNG)

    Windows 7 Professional x86/x64
    YKHFT-KW986-GK4PY-FDWYH-7TP9F (ACER/GATEWAY/PACKARD BELL)
    2WCJK-R8B4Y-CWRF2-TRJKB-PV9HW (ASUS)
    32KD2-K9CTF-M3DJT-4J3WC-733WD (DELL)
    PT9YK-BC2J9-WWYF9-R9DCR-QB9CK (FUJITSU)
    237XB-GDJ7B-MV8MH-98QJM-24367 (IBM-LENOVO)
    74T2M-DKDBC-788W3-H689G-6P6GT (HP-COMPAQ)
    GMJQF-JC7VC-76HMH-M4RKY-V4HX6 (SAMSUNG)
    H9M26-6BXJP-XXFCY-7BR4V-24X8J (SONY)
    862R9-99CD6-DD6WM-GHDG2-Y8M37 (N/A)

    Windows 7 Home Premium x86/x64
    VQB3X-Q3KP8-WJ2H8-R6B6D-7QjB7 (ACER/GATEWAY/PACKARD BELL)
    38JTJ-VBPFW-XFQDR-PJ794-8447M (ADVENT)
    2QDBX-9T8HR-2QWT6-HCQXJ-9YQTR (ASUS)
    7JQWQ-K6KWQ-BJD6C-K3YVH-DVQJG (ASUS Eee)
    6RBBT-F8VPQ-QCPVQ-KHRB8-RMV82 (DELL)
    C6MHH-TRRPT-74TDC-FHRMV-XB88W (FUJITSU)
    27GBM-Y4QQC-JKHXW-D9W83-FJQKD (IBM-LENOVO)
    4FG99-BC3HD-73CQT-WMF7J-3Q6C9 (HP-COMPAQ)
    CQBVJ-9J697-PWB9R-4K7W4-2BT4J (SAMSUNG)
    H4JWX-WHKWT-VGV87-C7XPK-CGKHQ (SONY)
    6B88K-KCCWY-4F8HK-M4P73-W8DQG (TOSHIBA)
    6GF36-P4HWR-BFF84-6GFC2-BWX77 (TOSHIBA)
    2P2P9-CM3F8-FTV6P-PC7CX-8TFF7 (N/A)

    Windows 7 Home Basic x86/x64
    MB4HF-2Q8V3-W88WR-K7287-2H4CP (ACER/GATEWAY/PACKARD BELL)
    89G97-VYHYT-Y6G8H-PJXV6-77GQM (ASUS)
    36T88-RT7C6-R38TQ-RV8M9-WWTCY (DELL)
    DX8R9-BVCGB-PPKRR-8J7T4-TJHTH (HP-COMPAQ)
    22MFQ-HDH7V-RBV79-QMVK9-PTMXQ (IBM-LENOVO)
    2P6PB-G7YVY-W46VJ-BXJ36-PGGTG (SAMSUNG)

    Windows 7 Starter x86/x64
    RDJXR-3M32B-FJT32-QMPGB-GCFF6 (ACER/GATEWAY/PACKARD BELL)
    6K6WB-X73TD-KG794-FJYHG-YCJVG (ASUS)
    36Q3Y-BBT84-MGJ3H-FT7VD-FG72J (DELL)
    273P4-GQ8V6-97YYM-9YTHF-DC2VP (IBM-LENOVO)
    RH98C-M9PW4-6DHR7-X99PJ-3FGDB (HP-COMPAQ)
    2XGHP-9TQK2-8CF28-BM2P2-8FRX8 (NOKIA)
    TGBKB-9KBGJ-3Y3J6-K8M2F-J2HJQ (TOSHIBA)