Selasa, 06 Mei 2014

Kebersamaan Dengan Roti Tawar dan Susu Coklat

Tidak terasa sudah hampir satu minggu saya meninggalkan Kota Makassar. Walaupun saya berada di Kota Daeng hanya selama dua minggu, tapi saya tidak akan melupakan kenangan di kota tersebut. Ya waktu yang sedikit tapi dengan banyak kenangan. Saat ini memang kaki saya telah berpijak di tanah Luwuk, tapi pijakan di tanah Makassar masih melekat tidak hanya dipikiran, akan tetapi melekat juga di hati. Bukan karena kotanya yang macet, karena memang saya benci dengan kemacetan. Bukan karena banyaknya tempat hiburan, karena saya tidak terbiasa dengan dunia hiburan. Bukan karena kota yang besar, karena bagi saya kota besar sangat sumpek. Tapi ada hal lain yang membuat saya sulit melupakan kenangan ketika berada di Kota Makassar. Hal tersebut adalah kenangan tentang kebersamaan. Ya tentang sebuah kebersamaan dari para mahasiswa Teknik Informatika yang akan melaksanakan ujian akhir dan juga wisuda sarjana. Meninggalkan Kota Luwuk dengan segenap beban di pundak dan juga beban di kantong untuk sebuah cita-cita besar. Menyandang gelar sarjana dengan embel-embel kata “S.Kom” yang akan melekat dan terpampang di belakang nama setelah proses wisuda selesai dilaksanakan. Kebersamaan itu dimulai di Mess Pemda Kabupaten Banggai yang beralamat di Jalan Gunung Merapi Kota Makassar. Di gedung inilah kebersamaan itu dirangkai satu per satu, dari obrolan dan canda menjadi sebuah ikatan kebersamaan. Bertempat di kamar 2 dan amar 8 rangkaian kebersamaan disemai dengan bermandikan kehangatan sebuah persahabatan. Kebersamaan yang dimulai dengan curhat antara satu orang yang kemudian secara bergantian dilanjutkan dengan curhat orang yang lain. Beragam problema dan beban yang dihadapi, utamanya terkait dengan pelaksanaan ujian menjadi bahan curhat masing-masing orang. Ada juga curhatan tentang kondisi keuangan yang semakin sekarat, berharap kiriman uang yang tak kunjung datang. Ada juga curhatan tentang nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) yang tidak memuaskan. Tapi semua itu dilalui dengan penuh keceriaan, tidak dijadikan beban pikiran. Yang penting bisa merasakan kebersamaan, itu sudah cukup untuk menutupi problema yang menggunung. Kebersamaan itu memang benar-benar terasa. kita semua walaupun sudah hampir lima tahun bersama menjalani persahabatan di bangku kuliah, entah mengapa ketika berada di Makassar justru kebersamaan itu baru terasa. apakah karena memang suasana yang sama-sama serba kekurangan, sehingga slogan senasib sepenanggungan muncul. Atau karena “magnet” Kota Makassar lebih kuat daya tariknya dibanding Kota Luwuk sehingga kebersaman itu muncul. Saya sendiri bingung, sebab itu tumbuh secara alamiah. Namun dari semua itu ada hal justru paling berkesan. Dia hadir saat suka maupun duka, disaat siang maupun malam, disaat sedih maupun bahagia, disaat lapar maupun kenyang. Hal tersebut adalah roti tawar beserta susu coklat. Ya, kedua benda inilah yang punya daya tarik yang cukup besar untuk melahirkan kebersamaan. Saking besar daya tariknya orang yang berada di Kamar 2 secara tiba-tiba bisa datang ke Kamar 8 karena merasa roti dan susu coklat tersedia di Kamar 8. Padahal orang yang di kamar 2 tidak diberi tahu kalau ada roti dan susu coklat di kamar 8. Itulah uniknya, roti tawar dan susu coklat bisa menembus sekat-sekat tembok, seakan orang yang berada di kamar 2 memliki indra keenam terhadap segala hal yang ada roti tawar dan susu coklat didalamnya. Oh kawan-kawan, kapan kita bisa berkumpul lagi di Mess Pemda Banggai di Kota Makassar. Berkumpul bersama menikmati roti tawar dan susu coklat. Karena roti tawar dan susu coklatlah yang menguatkan kebersamaan kita. Dari roti tawar dan susu coklat kita merengkuh gelar S.Kom di tanah yang bukan tempat lahir kita. Kini kita berada di Luwuk, maka nikmati sajalah roti tawar dan susu coklat yang ada di luwuk. ^_^ Jalan Garuda, 06052014 22.30 Wita.

SAYA (BELUM) BANGGA MENJADI SARJANA

Jarum jam menunjukan hampir pukul lima dini hari, udara begitu hangat. Derap kesunyian nampak terasa, gedung berlantai dua itu pun masih terlihat gelap. Di salah satu ruangan berukuran tiga kali empat meter pada gedung tersebut nampak tiga orang sedang asyik tertidur dengan lelap. Selain empat orang tadi ada juga saya sendiri yang sudah terbangun dan ingin memulai aktifitas. Karena mendengar lantunan ayat suci Alqur’an dan juga panggilan muadzin dari salah satu masjid terdekat, saya pun bergegas menuju masjid. Menggerakkan langkah setapak demi setapak memenuhi kewajiban sebagai hamba Illahi. Setelah selesai melaksanakan sholat subuh di masjid, saya pun kembali ke peraduan mempersiapkah hari bahagia yang akan dilalui. Ya, hari ini senin bertepatan dengan tanggal 28 april 2014 merupakan hari berbahagia bagi 797 orang mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Karena pada hari tersebut dilaksanakan Takhrij Thalabat (wisuda) sarjana dan magister periode 1 tahun 2014. Hari bersejarah bagi mereka yang telah menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Hari berbahagia bagi mereka yang telah lama mengidam-idamkan gelar sarjana melekat dibalik nama mereka. Sebuah momen dimana setiap orang yang melaluinya akan merasa ini adalah salah satu bagian terindah dalam hidupnya. Sebuah momen yang bahagia tersebut bukan hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, tapi dirasakan juga oleh keluarganya. Sebuah momen yang merupakan pijakan dan modal awal bagi mereka yang akan meniti karir. Sebuah momen yang dengan melaluinya akan menempatkan diri berada pada strata sosial satu tingkat lebih tinggi dari pada mereka yang tidak pernah melalui jenjang perguruan tinggi. Pelaksanaan wisuda yang dilalui pada hari ini memang penuh dengan warna-warni. Keceriaan tidak bisa ditutupi dari pancaran wajah pada setiap mahasiswa dan mahasiswi yang diwisuda. Begitu juga bagi orang-orang yang mendampingi wisudawan/wisudawati, entah itu orang tua, kerabat, teman, pacar dan semua yang hadir. Senyum bahagia, wajah sumringah, tatapan penuh optimis, kedipan mata yang beraura adalah hal-hal yang menggambarkan suasana wisuda. Setiap orang yang diwisuda terlihat penuh bangga atas apa yang mereka lalui pada hari ini. Namun hal berbeda justru terjadi pada diri saya. Pada pelaksanaan wisuda kali ini saya merasa tidak terlalu berbangga seperti kebanyakan orang lainnya. Saya menganggap wisuda kali ini terasa biasa-biasa saja, sekalipun itu tidak menghilangkan kebahagiaan bagi diri saya. Sebab saya menganggap bangga dan juga bahagia adalah dua hal yang berbeda. Sekalipun keduanya sama-sama berada diwilayah perasaan, tapi bangga dan bahagia berada pada tingkatan yang berbeda. Itulah yang saya alami, berbahagia tapi tidak terlalu bangga. Ada beberapa hal yang menjadi sebab sehingga saya tidak terlalu berbangga ketika diwisuda menjadi sarjana. Sebab yang pertama adalah saya merasa saya bukanlah manusia yang sempurna. Kesempurnaan hanyalah milik Allah, sedangkan saya adalah manusia yang masih banyak salah dan khilaf. Gelar sarjana adalah salah satu bentuk salah dan khilaf saya manakala saya tidak bisa mengamalkan ilmu yang saya dapatkan di bangku kuliah serta tidak bisa mengaplikasikannya di masyarakat. Terkait dengan hal tersebut saya teringat salah satu sambutan yang disampaikan oleh rektor saat acara wisuda berlangsung. Kata-kata yang diucapkannya adalah “secara moral, anak-anakku harus bisa mempertanggungjawabkan gelar sarjana yang melekat pada diri sehingga tidak disalahgunakan”. Ya kata kunci yang ada disambutan tersebut adalah kita jangan sampai menyalahgunakan gelar yang kita terima. Sebab ketika kita menyandang gelar sarjana, maka kita memiliki konsekwensi yaitu harus menjaga nama baik diri dan gelar beserta nama baik almamater. Dan itu adalah hal berat bagi saya dan dari hal berat tersebut tidak membebankan saya untuk mesti berbangga. Hal kedua yang membuat saya tidak berbangga ketika diwisuda adalah bagi saya gelar sarjana itu merupakan bagian terkecil dari jenjang yang kita lalui diperguruan tinggi. Diatas gelar sarjana masih ada gelar magister dan juga gelar doktor. Bahkan diatasnya itu masih ada gelar professor. Sehingga saya merasa saya akan berbangga manakala saya sudah bisa mencapai tatanan yang lebih tinggi yaitu menyandang gelar doktor atau professor. Sehingga hal tersebut bisa memacu dan memotivasi saya untuk senantiasa menguatkan niat serta bekerja keras dalam menimba ilmu. Karena ada target yang lebih tinggi yang membuat kita tidak pernah berhenti untuk menuntut ilmu. Jangan berpuas diri hanya karena menjadi seorang sarjana. Sebab ketiga sehingga saya tidak berbangga ketika wisuda kali ini adalah saya disini hanya seorang diri tanpa didampingi oleh kedua orang tua saya. Jadi saya tidak bisa berbangga ketika saya berbahagia namun tidak ada kedua orang tua saya yang menyaksikan secara langsung ketika saya sedang berbahagia. Bagaimanapun sampai saat ini walapun saya belum menjadi orang sukses, tapi ada andil kedua orang tua saya sehingga saya bisa menjadi seorang sarjana. Sehingga saya menganggap biarlah kebahagiaan ini saya kirimkan kepada mereka berdua dalam bentuk doa. Sehingga dengan doa tersebut secara tidak langsung dapat meraka rasakan sehingga melahirkan kebanggan tersendiri. sekalipun saya tidak berbangga, bagaimanapun gelar sarjana yang saya raih kali ini merupakan karunia, nikmat dan juga anugerah dari Allah. maka tidak ada cara lain yang bisa saya lakukan selain bersyukur dengan mengucakan Alhamdulillah. bukan tidak mungkin dengan ucapan syukur yang saya panjatkan kehadirat Allah Swt itu bisa menjadi pintu masuk saya meraih nikmat berikutnya dari Allah, menjadi magister, doktor dan professor. walaupun kelihatan mustahil, tapi bagi Allah semuanya tidak ada yang sulit, walaupun yang kita lakukan hanya sebuah pekerjaan sepeleh, yaitu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Akhirnya semoga saya bisa berbangga ketika bisa meraih posisi yang mulia di hadapan Allah. Menjadi orang yang bertaqwa dan senantiasa diridhoiNya. Menjadi pribadi yang bermanfaat bagi semua orang dan lingkungan dimana saya berada. Menjadi rahmatan lil alamin. Jl. G. Merapi Makassar, 28 April 2014. (22.05 Wita)

Sabtu, 27 Oktober 2012

MERENGKUH DUA KEBAHAGIAAN

Cuaca Desa Lopito, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan yang begitu terik, sedikit mengembalikan naluriku untuk menulis. Membuat sebuah tulisan tentang seorang sahabat. Menulis tentang kebahagiaan yang menghampiri sahabat tersebut. Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin menulis tentang dirinya. Hanya baru kali ini saja keinginan tersebut bisa terlaksana. Itupun karena inspirasi yang datang, berkaitan dengan dirinya yang kini sedang berbahagia. Ya, kebahagiaan yang selama ini terpendam. Kebahagiaan yang menunggu momentum untuk kemunculannya. Sebab kebahagiaan ini dia dapatkan dengan penuh perjuangan dan juga pengorbanan. Bahkan begitu banyak energi yang ia habiskan untuk merengkuh kebahagiaan tersebut. Dan kebahagiaan tersebut ia nikmati diwaktu yang begitu dekat. Untuk tidak dikatakan berada diwaktu yg berhimpitan. Kebahagiaan tersebut ialah dia baru saja diwisuda sebagai seorang sarjana. Dan yang tak kalah pentingnya ialah dia kini telah menikah. Merengkuh dua keberkahan yang melahirkan kebahagiaan hanya dalam waktu sebulan ini saja. Saya sendiri sangat ingin menceritakan perjuangannya mengejar kebahagiaan tersebut. Dimana apa yang dilakukannya selalu berbenturan dengan berbagai macam cobaan. Yang cobaan tersebut bukanlah perkara ringan jika dibanding dengan orang-orang biasa. Dan dia sanggup menghadapi benturan-benturan tersebut. Perjuangan mengejar cita-cita menjadi seorang sarjana misalnya. Benturan terbesar dirasakannya saat-saat memasuki masa akhir dari kuliah. Salah satunya adalah pada saat dia akan mengikuti kuliah kerja nyata (kkn). Betapa malam sebelum dia berangkat pelepasan kkn uangnya dicuri. Dan itu merupakan uang yang menjadi tumpuan selama masa kkn. Betapa ujian yang begitu menyesakan dada. Tidak hanya itu, pada saat hari H akan mengikuti ujian pnentuan, skripsinya basah dengan minuman soda. Sehingga sebagian lembaran skripsinya menjadi berwarna merah akibat tumpahan minuman soda. betapa paniknya dia dan sedikit tertekan dengan keadaan tersebut. namun semua itu bisa dilaluinya, walaupun dengan perjuangan yang cukup berat. dan salah satu yang tak kalah rumit dan pelik ialah jalan panjang meraih kebahagiaan memasuki pintu pernikahan. Betapa setiap harinya dia diejek oleh rekan-rekannya karena dengan usianya yang sudah kelewat matang dia belum juga menikah. Sebenarnya beberapa saat yang lalu dia hampir menikah. Lamaran sudah dilakukan, segala sesuatunya sudah dipersiapkan, tapi entah kenapa tiba-tiba batal di pertengan jalan. Namun semua itu dilaluinya dengan penuh kesabaran dan selalu berusaha. Dan hasil dari usahanya itu membuahkan akhir yang cukup manis. Tidak sampai rentang waktu sebulan, dia menikmati dua buah kebahagiaan sekaligus. Diwisuda sebagai sarjana dan juga menikah. Congratulations myfriend SAILUDIN. KM. Salvador Spirit, salakan-luwuk 20 oktober 2012, 16.41

Senin, 17 September 2012

Dua Kali Terima Kasih

sore hari menunjukan pukul 17.50. seorang lelaki duduk diatas motor yang diparkirnya sambil membaca sebuah buku. membacanya pun sembari terbuai dengan suasana ombak pinggiran pantai. tidak jauh dari posisinya duduk, ada beberapa orang juga yang sedang duduk-duduk menikmati terbenamnya fajar. di bagian depan dari orang tersebut ada juga dua orang lain yang saling berbincang-bincang. sedangkan dibagian belakangnnya ada pula dua orang yang sedang asyik bercerita. namun dua orang dibelakang tersebut tidak hanya sekedar bercerita biasa, akan tetapi berceritap sambil menegak minuman beralkohol. naudzubillah... orang yang membaca buku tersebut cuek saja dengan keadaan yang ada. karena memang dia sendiri sibuk menyelesaikan bacaan buku yang ada di genggamannya. sebuah buku yang menurutnya akan terasa nikmat dibaca sembari melihat perahu nelayan yang lewat maupun menikmati syahdunya desiran ombak pinggiran pantai. baginya membaca sambil berada disuasana yang syahdu dipinggiran pantai dapat membuat pikirannya jdi lbih luas dan lebih terbuka menerima informasi dari buku yang dibaca. hal ini menurutnya sangat mendukung sekali setelah sebelumnya disibukan oleh aktifitas keseharian yang begitu padat. selain suasana pantai, membaca buku ditempat tersebut jug bisa memudahkan langkahnya menuju masjid. ya memang karena tidak jauh dari tempatnya membaca buku terdapat sebuah masjid. bahkan ketika duduk-duduk tersebut sebenarnya ada tiga hal berbeda yang dilaluinya di waktu yang bersamaan. membaca buku, menikmati ombak pinggiran pantai, plus mendengarkan lantunan tilawah yg diputar di masjid tidak jauh dari tempat tersebut. syahdan, akhirnya adzan berkumandang. orang tersebut akhirnya bergegas untuk segera menuju masjid. distarterlah motor miliknya kemudian berjalan menuju panggilan muadzin. baru beberapa meter motor berjalan, tapi orang itu kemudian menepikan motornya ke pinggir jalan mendekati seseorang yang berjalan kaki. ternyata dia menepikan motornya tidak lain adalah untuk membonceng orang yang berjalan kaki tersebut yang kebetulan ingin juga pergi ke masjid. hanya orang yang mengendarai motor tersebut tertegun mendengar perkataan yang keluar dari mulut orang yang ingin diboncengnya. sebuah perkataan yang sering ia dengar tetapi dianggapnya sebuah hal langkah. ya, orang yang diboncengnya tersebut mengatakan terima kasih. biasanya ucapan terima kasih diucapkan setelah orang yang dibantu telah menyelesaikan hajatnya. tapi kali ini tidak seperti itu, orang yang berjalan tersebut mengucapkan terima kasih sebelum dia naik motor dibonceng. setelah yang dibonceng tersebut naik ke atas motor, orang yang berkendara tersebut kemudian melajutkan perjalanannya naik motor menuju masjid. motor telah berjalan, tidak sampai semenit kemudian tibalah mereka berdua.dipelataran masjid. karena memang jarak yang mereka tempuh hanya beberapa meter saja. dan orang yang dibonceng tersebut kemudian lagi-lagi mengucapkan terima kasih. jadi kalau dihitung sejak orang yang dibonceng tersebut naik motor sampai dia turun, hanya satu kata saja yang keluar dari mulutnya sebanyak dua kali yaitu terima kasih. ucapan sebelum dibantu dan ucapan setelah dibantu. ucapan sebelum ditolong dan ucapan setelah ditolong. ucapan yang langkah, mungkin merupakan sebuah hal yang sangat jarang kita temukan saat ini. dari kisah tersebut ada sebuah pelajaran bahwa ada sebuah hal walaupun itu kita anggap kecil sesungguhnya merupakan implikasi besar bagi kita. ungkapan terima kasih adalah bentuk apresiasi kita kepada orang lain yang membantu dan menolong kita. makin banyak kita berterima kasih berarti makin banyak kita mengapresiasi kepada orang lain. so, marilah kita perbanyak berterima kasih. #Masjid Al-Ukhuwwah Tanjung, 13 September 2012, 20.23 Wita.

Rabu, 05 September 2012

Anak Kecil Itu Bernama Rabbani

dipagi buta, hembusan angin cukup menusuk tulang. suasana pagi di sebuah jalan kecil itu terlihat sangat lengang. tidak terlalu tampak banyak orang berlalu lalang. namun beberapa saat kemudian telah terlihat beberapa orang melangkahkan kaki. ada yg berjalan dengan langkah terburu-buru, ada juga yang berjalan dengan santainya. langkah mereka tertuju pada sebuah bangunan besar bercat warna putih yang belum terlalu rampung. sebuah bangunan yang terletak persis disamping kanan jalan dari tempat orang-orang tersebut melangkahkan kaki. ternyata orang yang berjalan tersebut adalah para relawan yang baru saja selesai menjalankan misinya membantu pemulihan di daerah bencana. mereka melangkahkan kaki menuju masjid untuk melaksanakan sholat subuh. mereka telah sampai ke masjid itu sebelum adzan berkumandang. sembari menunggu azan berkumandang mereka dengan asyiknya saling berbagi cerita tentang aktifitas keseharian. tidak hanya bercerita, ada juga yang menunaikan fitrahnya membuang hajat. :D sahdan, azan telah berkumandang maka mereka pun smuanya masuk ke masjid setelah berwudhu. sembari menunggu iqamah dikumandangkan, ada yg melaksanakan sholat sunnah dan ada juga yang berzikir. namun ada satu pemandangan yang berbeda terlihat di dalam masjid itu. dari sekian banyak jamaah masjid yang berusia paruh baya, nampak terselip salah seorang anak kecil berusia sekitar sepuluhan tahun yang menjadi jamaah masjid. anak kecil itu datang ke masjid dengan menunggang sepeda sendirian. yang artinya dia datang ke masjid itu tanpa ditemani oleh orangtuanya. ada keistimewaan yang ada pada diri anak itu. betapa diusianya yang masih sekecil itu dia sudah punya semangat untuk menunaikan kewajiban sebagai makhluk Allah. sangat berbanding terbalik dengan anak-anak lain seusianya yang menghabiskan masa kecil dengan bermain. dari gambaran tersebut telah nampak bahwa anak itu kelak ketika besar dan dewasa dia akan menjadi ujung tombak agama ini. setelah dicari tahu, ternyata anak ini bernama Rabbani. dia.merupakan putra dari salah seorang relawan yang berjalan ke masjid tadi. dari namanya, sudah nampak telah tergambar jelas bahwa orangtuanya ingin menjadikan anak ini hidup dengan nilai rabbaniyah atau senantiasa dekat dengan Rabbnya. sejak kecil ia telah dibentuk dengan nilai-nilai ketuhanan yang dibuktikan dengan kedekatannya terhadap tuntunan agama. selain itu juga orang tuanya telah memdidik dan membentuk anaknya dengan menunjukan langsung sebuah keteladanan. cara tersebut dilakukan oleh orangtuanya dengan berhubungan baik kepada Allah dengan melaksanakan sholat, serta berhubungan baik kepada sesama manusia dengan menjadi relawan. inilah keluarga muslim yang ideal, bahwa kesholehan itu terdistribusi secara merata didalam keluarga. poso-ampana, 2 september 2012.

BIOGRAFI TANPA NAMA

Anggap saja menulis sebuah biografi seorang tokoh besar. Mungkin ini merupakan sebuah inti dari apa yang akan saya tulis saat ini. Ya, menuliskan tentang seseorang yang belum saya kenal tapi seakan saya sudah kenal lama. Seseorang yang tinggal jauh dari tempat saya berada. Seseorang yang bertemu alias bertatap muka pun belum pernah. Tapi begitulah adanya. :D Mengapa bisa saya menuliskan tentang dia? Apa istimewanya dia? Alasan apa sehingga dia bisa dijadikan objek tulisan saya? Mungkin itu sebagian besar pertanyaan sehingga membuat orang mencari alasan sehingga tulisan ini lahir. Yang jelas alasan pertama dari tulisan ini lahir karena ini adalah tugas. Tugas atas komitmen saya dengan orang yang saya jdikan objek tulisan untuk membuat sebuah tulisan. Tulisan tentang kita masing-masing sebagai gambaran sejauh mana kita saling mengenal. Yang dengan kata lain menggambarkan ukhuwah kita dalam bentuk sebuah tulisan. Memang kelihatan aneh, tapi begitulah kita menggambarkan sejauh mana persaudaraan kita. Karena itu tadi, kita belum pernah bertatap muka maka beginilah kita menggambarkan jarak persaudaraan sejauh mana kita saling kenal. Objek yang saya jadikan tulisan adalah seseorang yang tinggal di Pulau Jawa. Tepatnya di Propinsi Jawa Barat. Dia seorang pasundan alias dari suku sunda. Tempat tinggalnya menurut yang dia sampaikan adalah di sekitar pinggiran ibukota propinsi. Aktifitas kesehariaanya adalah menjadi seorang karyawan di sebuah usaha konveksi. Saya mengenal dia belumlah lama. Dan perkenalan kita pun hanya lewat dari sesuatu yang sangat ngetren dizaman modern ini yaitu media jejaring sosial. Perkenalan yang tidak disangka, perkenalan yang begitu istimewa dari sekian banyak teman baru di jejaring sosial. Perkenalan yang tidak pernah diprediksikan. Bahwa persaudaraan itu begitu kuat walaupun raga dipisahkan oleh tempat yang jauh. Saya sendiri cukup bingung dan tidak terlalu banyak tau tentang pribadinya. Saya hanya mengetahui sesuai dengan apa yang saya tau selama berinteraksi di dunia maya. Pengetahuan yang terbatas karena zohiriyah yang terbatas pula. Dia merupakan pribadi dengan tipe yang mudah diajak berinteraksi, walaupun menurut pengakuannya sendiri dia tipe orang yang kurang bersosialisasi. Memang nampak seperti sebuah kontradiksi. Sejauh yang saya tau juga, dia nampak seperti orang yang rada ketinggalan. Mungkin karena dia orang desa. Sekalipun dia tinggal di desa, tapi menurut saya tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari peradaban modern ibukota propinsi. Beda dengan saya yang memang tinggal di pelosok. Selain itu, menggambarkan pribadinya kaykanya dia merupakan orang yang supel, tidak banyak basa-basi. Berbeda dengan saya yang terlalu banyak tetek bengek ini itu. Cukup sekian saja saya menggambarkan tentang dia, karena memang yang saya ketahui hanya seperti itu. Lagi pula saya tidak ingin terlalu berpanjang lebar bercerita dan menulis tentang seseorang yang belum sekalipun saya berinteraksi tatap muka secara langsung. Dan kalaupun ini merupakan sebuah biografi, jangankan sempurna, tidak sempurna saja sangat tidak layak untuk disandang. Karena ini adalah biografi yang tidak mencantumkan nama objek yang ditulis. Nah loh... :D

Selasa, 28 Agustus 2012

Maafkan Atas Ukhuwah Yang Tak Sempurna

Saat saya membuat tulisan ini saya sedang memasuki momen istimewa. Momen yang bagi sebagian orang merupakan saat bersejarah dan juga berbahagia. Momen ketika kita mengulang tanggal kelahiran kita walaupun berada dalam tahun yang berbeda. Momen tersebut adalah milad atau yang lebih kita kenal dengan nama hari ulang tahun. tapi saya tidak terlalu antusias dengan momen tersebut, karena saya merasa tidak terlalu istimewa. Saya hanya bersyukur saja kepada Allah karena telah memberikan saya nikmat untuk bisa hidup sampai dengan saat ini. Ada beberapa alasan yang mengemuka sehingga untuk saat ini saya tidak terlalu antusias dengan tanggal kelahiran saya sendiri. Salah satunya adalah faktor persaudaraan. Mungkin akan muncul pertanyaan apa korelasinya antara tanggal kelahiran dengan persaudaraan sehingga momen hari kelahiran tidak ingin dirayakan. Saya hanya sedikit berprinsip semakin hari usia saya semakin bertambah, maka kepribadian saya pun harus bertambah. Semakin usia saya menjadi dewasa, maka pemikiran dan tingkah laku saya pun harus didewasakan. Nah itu yang menjadi masalah bagi saya saat ini, saya merasa belum menjadi dewasa sepenuhnya. Terutama yang berkaitan dengan ukhuwah atau persaudaraan. Saya sempat berpikir sembari merenung, sebagai seoang muslim kiranya persaudaraan itu harus senantiasa dijaga agar merekat erat. Tapi kenyataan yang ada justru sebaliknya, seakan satu persatu diantara saudara dan teman-teman saya justru ikatan itu mulai merenggang. Teman-teman yang dahulu begitu akrabnya, tidak tau mengapa kini sudah seperti memiliki jarak yang makin hari makin menjauh. Di dunia nyata maupun di dunia maya. Saya berpikir apa kira-kira sebab dan juga sumber masalah sehingga seakan-akan persaudaraaan yang telah lama dibangun seperti sudah mulai runtuh. Mungkin hal pertama yang harus saya perbaiki adalah masalah komunikasi. Sebab sebagin besar masalah yang dihadapi oleh kebanyakan orang adalah dimulai dari komunikasi yang memang bermasalah. Mungkin ada komunikasi yang saya sampaikan baik komunikasi lisan maupun komunikasi tubuh yang tidak berkenan di hati orang lain. Sehingga mereka tanpa saya sadari menjaga jarak bahkan menjauh dari diri saya. Hal kedua yang saya anggap menjadi sumber masalah dalam persaudaraan adalah tentang kebesaran jiwa. Mungkin selama ini jiwa saya terlalu sempit dalam memahami orang lain, tanpa pernah memahami orang lain terhadap diri saya. Selain itu juga barangkali saya terlalu memaksakan kehendak pribadi kepada orang lain. merasa apa yang saya sampaikan sudah yang paling benar tanpa pernah mempertimbangkan kehendak orang lain. padahal segala sesuatu harus dipandang secara objektif agar kehendak antara saya dan orang lain bisa saling mengakomodir. Kan alangkah indah jikalau menjalani persaudaraan tanpa ada yang merasa dirugikan. Sedangkan yang tak kalah krusial yang saya anggap menjadi sumber bermasalahnya hubungan ukhuwah saya adalah sifat egoisme. Ya, inilah sifat dasar manusia yang justru kadang menjadi tembok besar penghalang ikatan persaudaraan. Tidak bagi diri saya dan tidak juga bagi orang lain untuk mengelaknya. Egoisme baik oleh diri saya maupun oleh orang lain saya rasakan menjadi sandungan terbesar ketika ada niatan untuk memperbaiki diri. Kadang kita sudah legowo dan mengalah, tapi karena egoisme tidak jarang saudara kita tidak mau menerima kita. Begitu juga sebaliknya, sudara kita sudah bersusah payah menerima kekurangannya, tapi karena egoisme kita begitu mudahnya merasa diri hebat tidak mau menerima kesalahan saudara kita. Untuk mengakhiri tulisan ini, secara umum saya ingin mengucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahan saya. Sebab saya tidak akan pernah merasakan hari istimewa manakala ada saudara saya yang belum memafkan kesalahan saya. Apa artinya saya berbahagia sementara saudara saya tidak merasa senang dengan kebahagiaan yang saya rasakan. Kepada saudara-saudara saya yang merasa hatinya tersakiti, sekali lagi saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Kepada saudara-saudara saya yang tidak bermasalah dengan saya, saya memohon mari bersama kita kuatkan persaudaraan ini. Agar kesalahan-kesalahan kita dimasa lalu tidak terulang dimasa akan datang. Alangkah indahnya hidup manakala dibingkai dengan persaudaraan yang kuat. Persaudaraan dilandasi dengan keimanan, persaudaraan yang punya satu tujuan besar, meraih ridho Allah di dunia dan akhirat. Maafkanlah atas ukhuwah yang tidak sempurna..... Sarfin Lasumani Laando (28 Agustus 1988 – 28 Agustus 2012)